NETSULSEL | Brisbane-Makassar, Universitas Hasanuddin (Unhas) dan The University of Queensland (UQ) Australia, sepakat untuk meningkatkan kerja sama yang sudah terjalin selama beberapa tahun terakhir. Kerja sama bidang akademik yang telah berjalan adalah _double degree_ untuk program studi Ilmu Hubungan Internasional dan Ilmu Komunikasi.
Beberapa mahasiswa Unhas bahkan telah menyelesaikan studi dan menjalani wisuda di UQ setelah menyelesaikan skripsinya di Indonesia. Program _double degree_ ini berlangsung melalui sistem 2 plus 2, dimana mahasiswa akan kuliah 2 tahun di Unhas kemudian menjadi mahasiswa full time 4 semester di kampus UQ St. Lucia.
Kerja sama ini akan terus ditingkatkan untuk _double degree_ bidang studi Ekonomi Pembangunan dan Manajemen serta program studi lainnya yang telah memenuhi akreditasi unggul.
Komitmen ini dipertegas di sela pelaksanaan _IndOz Conference_ di Brisbane, pada 1 September 2026. Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas (Ansariadi, PhD), bersama Direktur Komunikasi Unhas (Dr. Sawedi Muhammad), bertemu Deputy Head of School of Public Health UQ (Associate Professor Paul Gardiner), dan Pro Vice-Chancellor (Global Partnerships) UQ (Professor Brett Lovegrove).
Dalam pertemuan ini, kedua pihak membahas sejumlah potensi kerja sama. Salah satunya rencana pengajuan program bersama New Colombo Plan (NCP) pada 2027. FKM Unhas menawarkan beberapa program bagi mahasiswa School of Public Health UQ, di antaranya pengenalan sistem layanan kesehatan (health care system) di Indonesia, intervensi kesehatan berbasis masyarakat seperti posyandu, hingga keikutsertaan dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang saat ini dijalankan Pemerintah Indonesia.
“Program-program tersebut diharapkan memberi pengalaman baru bagi mahasiswa UQ yang mengikuti NCP. Selain itu UNHAS juga menawarkan berbagai program lain yang bisa dipelajari oleh mahasiswa UQ seperti konservasi hutan di Kajang, Pembuatan perahu Pinisi di Bulukumba dan tenun sutra di Sengkang,” kata Ansariadi.
Pihak UQ sangat mengapresiasi inisiatif Unhas melalui program _Emerging Public Health Research Talent and Post Doc_ Dosen FKM. Melalui program ini, dosen muda FKM Unhas yang telah menempuh pendidikan magister (S2) berkesempatan magang di UQ selama dua hingga tiga bulan di bawah bimbingan peneliti senior. Selama masa magang, dosen muda tersebut akan menulis artikel ilmiah sekaligus mengikuti sejumlah kegiatan pelatihan di UQ. Khusus untuk program Post Doc, Dosen FKM juga melakukan riset dan penulisan artikel di UQ sekaligus bisa membimbing mahasiswa S2 dan S3 di UQ.
Kedua belah pihak juga membicarakan peluang double degree, international exposure bagi mahasiswa FKM, dan joint supervision, yaitu skema bimbingan bersama mahasiswa pascasarjana. Dosen UQ akan membimbing mahasiswa magister (S2) maupun doktoral (S3) FKM Unhas, sementara dosen FKM Unhas akan menjadi pembimbing bagi mahasiswa S2 maupun S3 UQ yang melakukan riset di Sulawesi. Skema ini diharapkan bermuara pada publikasi ilmiah bersama antara kedua institusi.
Dekan FKM Unhas, Ansariadi, PhD, mengatakan pengalaman sejumlah dosen FKM yang pernah menempuh pendidikan di UQ merupakan modal penting bagi kelanjutan kerja sama ini.
“Kami memiliki setidaknya empat orang dosen yang menyelesaikan studi S2 atau S3 di UQ, dan sebelumnya sudah ada kerja sama riset dengan kolega di UQ. Tentu ini akan mempermudah implementasi kegiatan kolaborasi bidang akademik dan riset FKM dengan UQ,” ujar Ansariadi.
Sementara itu, Prof. Brett Lovegrove dan Prof. Paul Gardiner menyampaikan apresiasi atas tawaran kerja sama dari FKM Unhas. Keduanya menyebut pihak UQ akan menyiapkan sejumlah skema travel grant untuk memungkinkan dosen FKM Unhas mengunjungi School of Public Health UQ selama tiga bulan.
Selain kerja sama bidang akademik, peluang kemitraan di bidang penelitian juga didiskusikan. Dr. Sawedi Muhammad menawarkan kerja sama penelitian bidang _critical mineral_ yang merupakan elemen dasar yang sangat dibutuhkan dunia untuk menopang keberlanjutan industri militer, semikonduktor, kendaraan listrik dan industri strategis lainnya.
“Posisi Unhas dalam penelitian _critical mineral_ sangat strategis karena berada di Pulau Sulawesi dimana sumber-sumber mineral ini secara geologis diduga terpendam di berbagai tempat. Kerja sama untuk penelitian ini rencananya akan ditandatangani di bulan Oktober mendatang,” kata Dr. Sawedi.
Komitmen peningkatan kerja sama antara Unhas dan UQ menjadi bukti nyata bahwa reputasi Unhas terus meningkat dan semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu universitas terbaik di Indonesia.(baba)











