
NETSULSEL | Maros, Di antara riuh lalu lalang manusia dan gemuruh mesin pesawat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, ada raga yang terkulai lemas menahan lelah dan penderitaan batin. Sudah dua hari lamanya, lantai dingin bandara menjadi alas tidur bagi para penumpang penerbangan transit yang tertahan akibat dampak erupsi gunung berapi.
Bagi Roganda Nainggolan (32), penundaan ini bukan sekadar urusan terlambat sampai ke tujuan. Pria yang terbang dari Merauke menuju Medan ini sedang berpacu dengan waktu yang terus mengikis harapannya untuk melihat sang kakak kandung untuk terakhir kalinya.
”Dari kemarin saya tidur di bandara,” tutur Roganda lirih sembari mengunyah sekantong kacang untuk mengganjal perutnya yang lapar. Matanya menyiratkan kelelahan fisik yang amat sangat, bertumpuk dengan beban duka yang tak tertahankan.
Hari Selasa menjadi batas akhir hatinya. Di Medan, keluarga besarnya sedang mempersiapkan prosesi pemakaman sang kakak. Setiap detik penundaan adalah siksaan bagi batinnya yang takut terlambat mengantarkan orang tercinta ke peristirahatan terakhir.
”Besok prosesi pemakaman berlangsung. Kalau hari ini masih tidak ada kejelasan…” ucapnya terputus. Kalimat itu menguap di udara, tercekik nada suaranya yang terbata-bata dan mata yang bergetar menahan tangis.
Ujiannya tak berhenti pada rasa duka dan lelah. Biaya hidup selama terdampar di area transit perlahan meniriskan sisa tabungan di dompetnya. Harga makanan di area bandara yang tergolong mahal memaksa dirinya menghemat biaya semampunya, walau harus memangkas kenyamanan paling mendasar.
Kini, di bawah lantai bandara yang asing dan bising, Roganda hanya bisa menggantungkan asa pada langit yang semoga segera membaik.
”Semoga ada keberangkatan hari ini,” bisiknya penuh harap, memohon keajaiban agar bisa segera memeluk keluarganya di rumah duka.
















