Kisah Pilu Ibu dan Anak yang Tewas Berpelukan, Dari Sisa-sisa Peristiwa Gempa NTT

sketsa dengan imajinasi AI (hanya pelengkap)

NETSULSEL | NTT, Debu tebal masih membumbung di atas puing-puing bangunan yang hancur dihantam gempa magnitudo 7,7 di utara Flores, Nusa Tenggara Timur. Di antara rintihan warga dan deru alat berat, sebuah rekaman video singkat yang diunggah akun Instagram @officialputrajaya94 mendadak menghentikan detak jantung siapa saja yang melihatnya. Video itu menangkap momen paling memilukan dari tragedi Sabtu pagi yang kelam tersebut: seorang ibu ditemukan tewas dalam posisi erat memeluk anaknya di bawah reruntuhan beton.

​Ketika guncangan hebat akibat Flores Back Arc Thrust meruntuhkan rumah mereka sekitar pukul 05.58 WITA, tak ada waktu untuk berlari. Refleks seorang ibu tak lagi memikirkan keselamatan diri sendiri, melainkan menjadikannya tameng terakhir bagi sang buah hati. Tubuhnya melengkung, merengkuh napas kecil itu di dada, berusaha menahan berton-ton material bangunan yang rubuh. Naas, pelukan hangat penuh kasih sayang itu menjadi perlindungan terakhir yang membeku bersama napas keduanya.

​Saat tim SAR dan warga memindahkan material beton secara perlahan, keheningan mencekam menyelimuti lokasi. Isak tangis para relawan tak terbendung ketika menyaksikan jemari sang ibu yang masih mengunci erat tubuh anaknya, seolah menegaskan bahwa hingga detik terakhir kehidupannya, ia tidak pernah membiarkan buah hatinya sendirian ketakutan.

​Video evakuasi yang viral itu menyebar cepat di media sosial, memancing belasungkawa mendalam dari jutaan warganet. Ungkapan “Turut berduka cita, semoga diberikan ketabahan” memenuhi kolom komentar, memantulkan duka kolektif sebuah bangsa.

​Bencana pagi itu tak hanya meretakkan dinding-dinding bangunan termasuk kerusakan fatal pada panel atap Bandara Frans Sales Lega di Ruteng tetapi juga meluluhkankembangkan hati siapa pun. Di tengah guncangan dahsyat yang meluluhlantakkan Flores, pelukan abadi ibu dan anak itu menjadi simbol paling tragis sekaligus suci tentang dalamnya cinta seorang ibu di tengah bencana.(baba)