NETSULSEL | Jayawijaya, Pengabdian sejatinya tidak pernah memilih tempat yang nyaman. Bagi Aprida Rapi (49), nilai sebuah ilmu peternakan yang ia timba di Kampus Tamalanrea, Universitas Hasanuddin (Unhas), bukanlah tentang duduk di balik meja kerja yang dingin, melainkan tentang menghadirkan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat hingga ke pelosok pedalaman.
Kabar gugurnya Aprida Rapi alumni Fakultas Peternakan Unhas angkatan 1996—dalam tugas kemanusiaan di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Rabu (9/9/2026), menjadi duka yang menyayat hati. Namun di balik gumpalan duka itu, tersurat sebuah kisah tulus tentang kesetiaan seorang ASN sekaligus srikandi almamater Merah-Hitam pada panggilannya.
Menjabat sebagai Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Peternakan Kabupaten Jayawijaya, Aprida tidak pernah membatasi jarak antara dirinya dan rakyat yang ia layani. Sore itu, di tengah medan Papua yang penuh tantangan, ia bersama rombongan tetap bergerak mengantarkan bantuan pangan dan program pelayanan masyarakat. Bagi Aprida, memastikan isi piring dan keberlangsungan hidup warga di lembah-lembah Jayawijaya adalah wujud ibadah dan ikhtiar kemanusiaan yang tak bisa ditawar.
Nahas, ikhtiar suci itu terhenti ketika peluru bersenjata menembus raga sang pengabdi. Aprida gugur bersama rekannya, drh. Alfan Mehan, di tempat mereka mendedikasikan keringat dan pikiran.
Di mata para sahabat seangkatannya di Fapet Unhas 1996, Aprida dikenang bukan hanya sebagai alumni yang tangguh, melainkan sosok yang membumi dan penuh empati. Pilihan hidupnya untuk menetap dan merajut pengabdian di bumi Cenderawasih adalah bukti sahih betapa tingginya nilai kepedulian yang ia bawa dari Almamater.
”Beliau mengajarkan kita arti pengabdian tanpa batas. Saat banyak orang memilih zona nyaman, Aprida memilih hadir di tempat yang paling membutuhkan ilmunya,” kenang salah seorang rekan almamaternya dengan suara berat.
Kepergian Aprida Rapi meninggalkan jejak rasa hormat yang mendalam. Ia membuktikan bahwa gelar dan ilmu pengetahuan yang didapat dari bangku kuliah menyatu utuh bersama jiwa raga untuk kemaslahatan sesama. Meski raganya kini telah berpulang, kehangatan dedikasi dan nilai pengabdian yang ditinggalkan alumni Unhas ini akan terus hidup, menjadi suluh penerang bagi siapa saja yang percaya bahwa mengabdi untuk rakyat adalah tugas mulia hingga akhir hayat.(ita)
















