
NETSULSEL | Makassar, Di tengah tantangan krisis iklim dan ketahanan pangan global, sebuah terobosan akademis yang menginspirasi lahir dari panggung perguruan tinggi Sulawesi Selatan. Dr. Maria Ulviani, S.Pd., M.Pd. (Ulfa), dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Makassar, berhasil membuktikan bahwa karya sastra tradisional bukan sekadar warisan estetika, melainkan kunci jawaban bagi masa depan sistem pangan berkelanjutan.
Melalui pendekatan inovatif kritik sastra ekologis (ekokritik), Dr. Ulfa menggali kearifan lokal yang tersimpan rapat dalam cerita rakyat Sulawesi Selatan. Penelitian bertajuk “Representasi Kearifan Pangan Lokal dalam Cerita Rakyat Sulawesi Selatan untuk Mendukung Sistem Pangan Berkelanjutan” ini resmi lolos seleksi ketat tiga panelis ahli untuk dipresentasikan pada Konferensi Ilmiah Sistem Pangan Berkelanjutan (KISPB) 2026 Seri Sulawesi Selatan pada 7 Oktober 2026 mendatang di Makassar.
Menjadikan Sastra Lintas Disiplin dan Solutif
Karya akademis ini mematahkan stereotip bahwa kajian sastra hanya berkutat pada keindahan bahasa dan teori naskah. Dr. Ulfa memperlihatkan bahwa dongeng dan tradisi tutur masa lalu menyimpan “arsip pengetahuan” tentang diversifikasi bahan pangan, cara penghormatan terhadap alam, hingga nilai resiliensi gizi yang sangat relevan untuk persoalan masa kini.
Gagasan segar ini selaras dengan tujuan pembangunan global (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:
- SDG 2 (Tanpa Kelaparan): Menguatkan ketahanan dan resiliensi pangan komunitas berbasis pengetahuan lokal.
- SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): Mendorong pemanfaatan sumber daya alam yang bijak dan tidak eksploitatif.
- SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan): Melestarikan warisan memori kolektif budaya untuk generasi mendatang.
Langkah Dr. Ulfa memberikan teladan nyata bagi civitas akademika Indonesia bahwa penelitian bahasa dan sastra bisa berdampak langsung bagi masyarakat. Lewat keterlibatannya di forum ilmiah bertaraf regional yang diselenggarakan Simpul Pangan Nusantara tersebut, akademisi muda ini berhasil menjembatani ilmu humaniora dengan sains lingkungan—membuktikan bahwa solusi atas tantangan masa depan sering kali tersembunyi dalam jejak kearifan leluhur kita sendiri.(ita)










