Membaca Data di Balik Antrean BBM Makassar

#ReportaseAno

Pertamina dan pemerintah telah mencoba berbagai cara untuk mengurai antrean BBM yang berjam-jam di sejumlah SPBU Makassar. Hari ini antrean memang terlihat mulai sedikit terurai. Tetapi tetap saja, warga masih harus mengantre.

Dalam perjalanan menuju sebuah kafe, saya kembali melihat barisan kendaraan itu. Matahari Makassar sedang terik. Namun panas rupanya tidak lagi cukup untuk membuat warga meninggalkan antrean.

Driver Grab yang mengantar saya terlihat masih mengantuk.

“Semalam saya antre lima jam, Pak. Terpaksa antre malam hari karena kalau siang harus cari rezeki.”

Kalimat itu sederhana. Tetapi lima jam bagi seorang pengemudi bukan sekadar waktu yang hilang. Itu adalah waktu untuk mencari penghasilan.

Dari situ saya mencoba melihat persoalan ini dari sisi lain.

Benarkah antrean panjang semata-mata karena masyarakat melakukan panic buying? Atau ada persoalan lain yang perlu dibaca melalui data?

#ReportaseAno kali ini mencoba mengurainya.

*Kendaraan Bertambah, Kuota Jalan di Tempat*

Berdasarkan data Electronic Registration and Identification (ERI) Korlantas Polri, jumlah kendaraan di Sulawesi Selatan meningkat dari 5,38 juta unit pada 2025 menjadi 5,54 juta unit pada Agustus 2026. Artinya, bertambah 162.763 kendaraan dalam setahun.

Di saat jumlah kendaraan terus bertambah, kuota BBM bersubsidi disebut masih berada pada kisaran 1,8 hingga 1,9 juta kiloliter, terdiri dari sekitar 1,1 juta KL Pertalite dan 730 ribu KL Solar.

*Di sinilah persoalannya mulai terlihat.*

_Kendaraan bertambah. Kuota relatif stagnan_

Pertanyaannya kemudian, apakah formula kuota yang ada masih mampu mengikuti pertumbuhan kendaraan dan kebutuhan mobilitas Makassar?

_Saat Harga Berubah, Antrean Ikut Bergerak_

*Ini persoalan lain.*

Setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi per 1 September 2026, selisih harga dengan BBM subsidi melebar. Kondisi ini mendorong sebagian pengguna Pertamax kembali memilih Pertalite.

_Antrean Pertalite pun melonjak dalam waktu singkat_

Pada Solar, tekanan datang dari sektor logistik. Data Pertamina Patra Niaga mencatat permintaan Solar subsidi meningkat 10 hingga 15 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026.

Nah Pertamina harus tau ini, Makassar adalah pintu gerbang logistik Indonesia Timur. Lebih dari 104 ribu truk beroperasi di wilayah ini. Ketika kendaraan-kendaraan besar membutuhkan Solar dalam jumlah besar, jatah harian SPBU dapat terserap lebih cepat.

Persoalan pasokan kemudian bertemu dengan persoalan di lapangan.

Saat sidak, Wali Kota Makassar Munafri menemukan keterbatasan operator dan tidak seluruh mesin pompa atau nozzle dioperasikan secara maksimal. Byarrr!!!

Artinya, persoalannya mungkin tidak sesederhana “stok aman” versus “warga panik.”

*Tetapi baca ki data karaeng, bapak bapak!!!*

Ada kuota, pertumbuhan kendaraan. Ada perubahan harga.tentu terjadi lonjakan permintaan sektoral. Serta kapasitas pelayanan SPBU.

Semuanya bertemu di satu tempat: *antrean*

Harga yang Dibayar Wargakop
Antrean berjam-jam akhirnya menghasilkan biaya yang tidak terlihat di layar laporan.
Sekolah harus menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk mengurangi kepadatan lalu lintas.
Pengemudi transportasi daring kehilangan tiga hingga empat jam waktu produktif hanya untuk mendapatkan BBM. Waktu yang seharusnya digunakan mencari penumpang berubah menjadi waktu menunggu.

Truk pengangkut bahan pokok bahkan harus bertahan hingga dini hari. Ketika distribusi tersendat, biaya logistik ikut membesar dan rantai pasok antardaerah ikut terkena dampaknya.

Jadi, mungkin sudah waktunya persoalan antrean BBM Makassar tidak hanya dibaca dari berapa stok yang tersedia, tetapi juga dari berapa kendaraan yang harus dilayani, berapa permintaan yang tumbuh, berapa kapasitas SPBU yang bekerja, dan berapa banyak waktu produktif warga yang hilang.

Sebab di jalan, saya melihat bukan sekadar warga yang sedang panic buying.
Saya melihat orang-orang yang sedang menunggu kepastian.

Reportase Ano melaporkan dari cafe

Sabtu, 12 September 2026