OPINI: Anno Orwels, Aktivis Masuk Kekuasaan

Aktivis Masuk Kekuasaan

Penulis : Ano Orwels

Pernah suatu waktu saya membaca sebuah majalah terkemuka di tanah air yang mengulas dua dekade Reformasi. Di sana saya menemukan satu kutipan yang menarik: salah satu penyebab kegagalan Reformasi adalah karena para aktivis 98 tidak saling mendorong untuk mengambil bagian dalam kekuasaan, mulai dari pusat hingga daerah.

Sayup-sayup lagu “Donna Donna”soundtrack film Gie, mengantar tulisan pendek #KopiAno kali ini. “Donna Donna” adalah lagu protes yang sarat simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, termasuk penindasan politik dan pembatasan kebebasan pribadi.

“Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur yang kotor. Tapi suatu saat, ketika kita tak dapat menghindarinya lagi, maka terjunlah.”

Kutipan Soe Hok Gie itu mengalun bersama soundtrack tersebut, sementara kopi hitam kembali kuteguk. Kucari versi asli Joan Baez yang menyanyikan “Donna Donna”.Dahsyat, teman!

Saya duduk termangu di sebuah warung kopi di Panakkukang, Makassar. Lalu saya mendengar pernyataan Budiman Sudjatmiko kepada anak-anak UGM.

“Saya jawab, ‘Aku masih seperti Budiman yang dulu. Saya enggak berubah.’”

Budiman adalah salah satu tokoh sentral gerakan mahasiswa 98. Pada peristiwa 27 Juli 1996, saya bersama AMPD beberapa kali bersua dan berdiskusi dengannya sebelum pecahnya peristiwa tersebut.

Berat rasanya menulis tentang ini. Namun saya harus sedikit mengurainya, biarlah para pembaca #KopiAno meresapi dan melanglang. Kopi hitam kuminum, kuresapi, kudalami makna dari sebuah kata yang kini dialamatkan kepada Budiman Sudjatmiko: pengkhianatan.

Saya kembali mengingat kata-kata Soe Hok Gie, “Ketika suatu saat tak dapat dihindari lagi, maka terjunlah.”

Saya yakin Budiman tidak berubah. Ia masih seorang aktivis dengan pandangan sosialisme kerakyatan. Kudapat kabar, ia masih sering bercerita tentang Sukarno, Sjahrir, Hatta, Gus Dur, dan Tan Malaka. Budiman tidak menjual dirinya. Ia melihat kekuasaan bukan sesuatu yang cukup dimaki dari kejauhan.

Kekuasaan harus direbut. Sebab jika kita mengharamkan aktivis masuk ke dalamnya, maka yang tertawa adalah mereka yang tak pernah merasakan badai perjuangan. Yang menggerakkan roda Indonesia kemudian hanyalah politisi karbitan, politisi oplosan, oligarki, mafia, dan berbagai kepentingan lain.

Jangan heran bila negeri ini masih seperti yang kita lihat hingga hari ini. Setiap pergantian kekuasaan selalu melahirkan wajah-wajah baru, tetapi sistem dan polanya tetap sama: korupsi, nepotisme, kolusi, dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya. Kita terjebak pada stigma dan tuduhan pengkhianatan itu.

Pada akhirnya kita menjadi bangsa yang aneh. Saat aktivis hanya berteriak di luar pagar, kita bertanya, “Kapan mereka bekerja?” Tetapi ketika mereka masuk ke dalam pagar untuk bekerja, kita buru-buru menuduh mereka berkhianat.
Barangkali yang kita sukai bukan perubahan, melainkan romantisme perlawanan itu sendiri. Kita menikmati kisah mahasiswa yang berteriak di jalan, tetapi takut saat melihat mereka duduk di meja tempat keputusan dibuat. Mari kita berbenah pikiran dan mental!

Memang akan ada perubahan pada seorang aktivis ketika masuk ke dalam sistem. Mungkin cara berpakaian, gaya hidup, atau lingkungannya berubah. Namun saya percaya keberpihakannya tidak serta-merta berubah. Keberpihakannya tetap kepada rakyat, kepada demokrasi, kepada keadilan sosial. Mereka hanya berpindah posisi untuk memperjuangkan nilai-nilai yang dahulu mereka teriakkan di jalanan.

Namun, apakah perubahan bisa terjadi?

Jika hanya Budiman, Adian Napitupulu, Fahri Hamzah, Nesar Patria, Agus Jabo, Faisol Riza, Mugianto, dan beberapa nama lain yang masuk ke dalam sistem, mereka sesungguhnya belum meraih kekuasaan. Mereka baru masuk ke dalam ruangnya.

Perjalanan masih panjang, Bung!
Untuk kawan-kawan yang kini berada di dalam lingkar kekuasaan, kalian sesungguhnya belum meraih kekuasaan. Teruslah berjuang. Adik-adik kalian yang hari ini turun ke jalan adalah cermin wajah kalian di masa silam. Wajah-wajah muda yang mengetuk nurani agar kalian tidak terlena.

Negara ini belum menjadi seperti yang dahulu kalian bayangkan. Termasuk hari ini.

Menelaah pikiran Plato tentang politik dan kekuasaan, ketidakpedulian orang baik terhadap politik bukanlah sikap netral. Menurutnya, hukuman bagi orang baik yang enggan berpolitik adalah dipimpin oleh orang-orang yang lebih buruk. Plato percaya bahwa negara ideal harus dipimpin oleh mereka yang bermoral dan dikuasai oleh akal budi.

Selamat berakhir pekan.
Koheng, 20 Juni 2026

#PondokKopiAno
#KopiAno