NETSULSEL | Makassar, Kabar ditunjuknya Kota Makassar sebagai tuan rumah Kejuaraan Sepaktakraw Dunia disampaikan oleh Ketua PB PSTI Sulsel, Prod DR Nukhrawi Nawir sesuusai mendampingi Presiden Asian Sepaktakraw Federation (ASTAF) sekaligus Sekretaris Jenderal International Sepaktakraw Federation (ISTAF), Datuk Abdul Halim Kader bertemu resmi Ketua Umum KONI Pusat, Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman dikantor KONI Pusat baru-baru ini.
Penunjukan Kota Makassar sebagai Tuan Rumah diutarakan Nukhrawi berdasarkan pertimbangan sejarah olah raga takraw itu sendiri.
“Sulsel memiliki sejarah panjang dengan takraw, olah raga ini sudah ada masa nusantara masih berbentuk kerajaan dan sepak takraw yang orang Makassar sebut Sepak Raga merupakan permainan tradisional yang diidolakan oleh Raja, Bangsawan dan Rakyat masa itu” Kata Nukhrawi.

Menurutnya, dengan olah raga sepak ini digelar dikota Makassar, maka akan mengembalikan kejayaan sepak raga menjadi olah raga khas milik Indonesia terkhusus Sulawesi Selatan. Nukhrawi menjelaskan pula jika sepak takraw Indonesia dipandang sukses ditingkat dunia.
“Penunjukan Kota Makassar sebagai tuan rumah, diusulkan oleh Raja Oktohari Oddang, Ketua Umum Komite Olah Raga Indonesia (KOI) saat dikunjungi Ketua ASTAF dikantornya” Tutur salah satu Guru Besar Fakultas Olah Raga UNM Makassar. Nukhrawi menjelaskan, tuan rumah kejuaraan dunia ini adalah yang pertama digelar di Indonesia dan penunjukan kota Makassar sebagai tempat digelarnya event dunia tersebut sudah dilakukan penandatanganan dengan Internasional Sepaktakraw Federation (ISTAF).
Sejarah Sepaktakraw
Sepak takraw di Makassar berakar dari permainan tradisional Ma’raga (atau A’raga), yang sangat populer di kalangan masyarakat Bugis-Makassar sejak zaman kerajaan. Olahraga ini kemudian bertransformasi menjadi sepak takraw modern setelah diperkenalkannya aturan net dan sistem poin pada era 1940-an.

Akar Budaya: Permainan Ma’raga
Asal Mula: Ma’raga tercatat dalam sejarah lontara diciptakan sebagai media hiburan, bahkan terkait dengan prosesi pelantikan raja di Kerajaan Gowa. Prestise Bangsawan: Permainan ini sangat digandrungi oleh putra bangsawan muda (Karaeng). Pada masa lalu, seorang ksatria dianggap belum sempurna keterampilannya jika belum menguasai permainan ini.
Aturan Main Tradisional: Pemain membentuk regu dan melakukan passing atau atraksi bola rotan dengan berbagai posisi—berdiri, duduk, jongkok, hingga berbaring—sambil diiringi tabuhan gendang, gong, dan pui-pui.
Transformasi Menjadi Sepak Takraw
Modernisasi (1940-an): Pada dekade ini, permainan yang murni menampilkan kebolehan seni ini mulai disesuaikan dengan aturan modern, seperti penggunaan jaring pembatas dan perhitungan angka. Pengembangan Resmi: Sepak takraw resmi menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan secara nasional dan internasional, di mana Sulawesi Selatan menjadi salah satu lumbung atlet yang melahirkan pemain-pemain profesional untuk Indonesia.
Pelestarian Budaya: Hingga kini, budaya Ma’raga masih dilestarikan dan dipertunjukkan dalam acara adat, pernikahan, atau festival budaya oleh sanggar-sanggar seni di wilayah Makassar dan sekitarnya.











