NETSULSEL | Makassar, Aula Arafah Asrama Haji Sudiang, Makassar, Selasa dini hari (23/6/2026) mendadak dipenuhi haru biru. Di bawah lampu temaram sepertiga malam, rona bahagia terpancar dari wajah para jemaah haji Kloter 29 yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air. Namun, ada yang unik dan magis dari pemandangan subuh itu. Mereka adalah potret nyata Indonesia mini, Jemaah Haji asal Provinsi Papua, namun kental dengan nuansa rasa Bugis, Makassar, hingga Jawa.

Ketika Papua Menjadi Rumah Bersama
Mayoritas jemaah yang pulang dari Tanah Suci ini merupakan warga yang telah puluhan tahun menetap, mengabdi, dan menaruh hidup di tanah Papua, mulai dari Kabupaten Jayapura, Biak Numfor, Kepulauan Yapen, hingga Mamberamo Raya. Di sinilah indahnya toleransi diuji dan terbukti nyata. Bumi Cenderawasih bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan rahim kedua yang merangkul perbedaan dengan tangan terbuka.
”Pemerintah daerah dan masyarakat asli Papua menerima seluruh warga pendatang sebagai bagian dari keluarga besar mereka. Hak beribadah, termasuk pelayanan haji, diberikan setara tanpa sekat suku maupun asal-usul,” ujar Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Papua, H. Musa Narwawan, dengan nada penuh syukur.
Musa berharap, kepulangan jemaah dengan predikat haji mabrur ini mampu membawa angin segar perdamaian dan meningkatkan kepedulian sosial saat mereka kembali ke komunitasnya di Papua nanti.
Disiplin Tinggi dan Pesan Keberagaman
Apresiasi mendalam juga datang dari Wakil Koordinator Bidang Penjemputan dan Penerimaan Jemaah PPIH Debarkasi Makassar, H. Wahyuddin Hakim. Menurutnya, Kloter 29 bukan sekadar kloter penutup operasional pemulangan Papua, melainkan kloter percontohan tentang indahnya kebersamaan.
Selama 42 hari perjalanan spiritual di Mekkah dan Madinah, jemaah lintas budaya ini menunjukkan kekompakan yang luar biasa. Mereka saling menjaga, membaur, dan meleburkan ego kesukuan di bawah satu bendera: Papua untuk Indonesia.
Dalam momentum suci ini, doa bersama juga dipanjatkan untuk satu jemaah yang wafat di Tanah Suci dan satu jemaah yang saat ini masih berjuang sembuh di rumah sakit Madinah.
Merawat Kebhinekaan dari Timur Indonesia
Serah terima resmi jemaah dari PPIH Makassar kepada Pemerintah Provinsi Papua subuh itu menjadi simbol bahwa tugas mengawal tamu Allah telah usai, namun tugas merawat persaudaraan baru saja dimulai. Acara ini dihadiri oleh para pejabat Kementerian Haji dari berbagai kabupaten di Papua serta daerah penyangga seperti Maros dan Gowa.
Mengapa ini menginspirasi kita?
Kisah Kloter 29 Papua ini adalah tamparan lembut bagi siapa saja yang masih meragukan indahnya toleransi. Di saat perbedaan sering kali memicu gesekan, masyarakat Papua dan warga pendatang justru memperlihatkan harmoni yang begitu cantik.
Mereka membuktikan bahwa bertoleransi dan menerima kebiasaan budaya daerah lain tidak akan mengikis identitas asli kita, melainkan justru memperkaya dan memperindah kehidupan berbangsa. Dari ujung timur Indonesia, mereka mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri: Papua adalah rumah bersama yang merawat persaudaraan dalam bingkai kebhinekaan. (ist)
















