Penulis:
Mashud Azikin
Ada ironi dalam cara kita mengajarkan lingkungan kepada anak-anak. Hutan, sungai, perubahan iklim, dan pemanasan global hadir melalui buku dan presentasi, sementara persoalan terdekat sering luput: ke mana perginya sisa makanan setelah piring mereka kosong?
Pertanyaan itu relevan ketika membicarakan Sekolah Rakyat di Kota Makassar.
Sebagai kota metropolitan, Makassar menghadapi persoalan persampahan yang kompleks. Pertumbuhan penduduk, perdagangan, kuliner, permukiman, dan perubahan pola konsumsi terus menambah timbulan sampah, terutama sampah organik.
Penanganan sampah tidak bisa terus bertumpu di hilir. Perubahan harus dimulai dari sumber: sampah dikelola sedekat mungkin dengan tempat ia dihasilkan.
Di sinilah Teba Modern relevan. Sistem ini dapat mengelola sampah organik di lingkungan pendidikan, termasuk asrama Sekolah Rakyat, sekaligus menjadi laboratorium ekologis, ruang pembentukan karakter, dan sarana membangun kemandirian pangan.
Pendidikan lingkungan tidak selalu membutuhkan laboratorium mahal. Kadang, ia cukup dimulai dari tempat untuk meletakkan sisa makanan.
Makassar dan Persoalan Sampah yang Tidak Bisa Terus Dikirim ke Hilir
Selama bertahun-tahun, sampah dipahami sebagai urusan pengangkutan: dikumpulkan, dibawa menjauh, lalu bermuara di fasilitas pemrosesan atau tempat pembuangan akhir. Model ini menciptakan ilusi bahwa masalah selesai ketika sampah meninggalkan halaman rumah.
Padahal sampah tidak hilang, melainkan berpindah tempat.
Makassar perlu mengubah paradigma tersebut. Persoalan persampahan tidak mungkin hanya dibebankan kepada Dinas Lingkungan Hidup atau fasilitas hilir. Rumah tangga, pasar, sekolah, kawasan komersial, perkantoran, hotel, rumah makan, dan lembaga pendidikan harus menjadi bagian dari sistem.
Hulu harus diperkuat agar beban hilir berkurang.
Sekolah Rakyat dapat memainkan peran strategis, terutama jika memiliki asrama dengan jumlah penghuni besar. Sisa nasi, sayuran, buah, kulit telur, dan residu dapur tidak semestinya selalu dipandang sebagai beban. Dengan sistem yang tepat, semuanya dapat kembali menjadi sumber daya.
Sekolah Rakyat: Pendidikan yang Tidak Berhenti di Ruang Kelas
Sekolah Rakyat tidak hanya berbicara tentang pendidikan akademik, tetapi juga kesempatan, kemandirian, pembentukan karakter, dan penguatan kehidupan anak-anak dari berbagai latar belakang. Karena itu, pendidikan lingkungan harus hadir dalam rutinitas sehari-hari.
Anak-anak yang tinggal di asrama dapat belajar bahwa setiap aktivitas memiliki konsekuensi ekologis: makan menghasilkan sisa, sisa dipilah, sampah organik diolah, hasilnya dikembalikan ke tanah, lalu tanah menumbuhkan tanaman.
Satu siklus kehidupan dapat dipelajari tanpa meninggalkan halaman sekolah.
Teba Modern menjadi buku pelajaran tanpa halaman. Siswa dapat melihat, menyentuh, dan mengelolanya sehingga memahami bahwa lingkungan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan.
Jumat, 25 September 2026: Ketika Gagasan Teba Modern Masuk ke Sekolah Rakyat
Gagasan itu tidak berhenti sebagai wacana.
Pada Jumat, 25 September 2026, edukasi pemanfaatan Teba Modern dilaksanakan di lingkungan Sekolah Rakyat melalui kolaborasi TJSL BNI, Persatuan Pelestari Indonesia (PPI), dan Yayasan Butta Porea Indonesia sebagai mitra lokal di Sulawesi Selatan.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan ekologis memerlukan pertemuan antara sumber daya dunia usaha, pengetahuan pemerhati lingkungan, dan pemahaman konteks lokal. Hadir dalam kegiatan tersebut Tim BNI, Denny Pondiu dari PPI, serta Fadly Padi dan Mashud Azikin dari Yayasan Butta Porea Indonesia.
Yang diperkenalkan bukan sekadar fasilitas, melainkan cara berpikir: sampah organik yang selama ini disingkirkan dapat dikelola dan dikembalikan ke dalam siklus ekologis. BNI membawa perspektif tanggung jawab sosial dan lingkungan, PPI pengetahuan pelestarian, Yayasan Butta Porea perspektif lokal dan jejaring komunitas, sementara Sekolah Rakyat menyediakan ruang praktiknya.
Dengan demikian, Teba Modern menjadi media dialog antara dunia usaha, masyarakat sipil, komunitas lokal, dan dunia pendidikan.
Teba Modern: Kearifan Lokal yang Menemukan Konteks Baru
Konsep Teba Modern berangkat dari praktik pengelolaan sampah organik yang berakar pada tradisi masyarakat Bali. Dalam konteks modern, pendekatan ini dapat dimodifikasi agar lebih terstruktur, higienis, aman, dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan.
Di Sekolah Rakyat Makassar, yang dibawa bukanlah bentuk tradisinya, melainkan prinsip mengembalikan bahan organik ke dalam siklus kehidupan secara lokal.
Makassar dapat memberi konteksnya sendiri melalui urban farming, komposting, kebun sekolah, apotek hidup, pemanfaatan lahan terbatas, edukasi pemilahan, dan pengembangan pangan lokal.
Tradisi memberi inspirasi. Kota memberi konteks. Sekolah memberi ruang untuk bereksperimen.
Dari Dapur Asrama ke Kebun Sekolah
Sisa makanan dari dapur asrama dipilah, lalu sampah organik masuk ke Teba Modern. Material yang telah terurai dimanfaatkan sebagai kompos atau pembenah tanah sesuai desain sistem. Kompos itu digunakan di kebun sekolah untuk menanam cabai, tomat, kangkung, sawi, tanaman obat, atau tanaman pangan lain.
Terbentuklah lingkaran:
dapur → Teba Modern → kompos → kebun → pangan → dapur.
Inilah ekonomi sirkular dalam bentuk yang mudah dipahami. Anak-anak melihat bahwa sesuatu yang hendak dibuang ternyata dapat kembali menjadi kehidupan. Dari pengalaman itu, kesadaran ekologis tumbuh lebih kuat daripada sekadar menghafal definisi.
Teba Modern dan Gagasan Tanami Tanata’
Di Makassar, Teba Modern dapat dipertemukan dengan semangat urban farming dan gerakan Tanami Tanata’ menanam tanah kita. Filosofinya sederhana: ruang sekecil apa pun dapat menjadi ruang produktif jika dikelola dengan pengetahuan dan gotong royong.
Teba Modern mengolah residu organik, kompos memperbaiki tanah, tanah menjadi media tanam, dan kebun menghasilkan pangan. Dengan demikian, pengelolaan sampah menjadi bagian dari sistem pangan sekolah, sekaligus mempertemukan persoalan ekologis dengan ketahanan pangan dan kebutuhan sosial.
Dari Sampah Menjadi Pendidikan Karakter
Tanggung jawab harus dialami, bukan hanya diajarkan.
Memilah sisa makanan setiap hari memberi pelajaran konkret bahwa kebersihan membutuhkan kerja, sumber daya, biaya, dan kepedulian terhadap dampak lingkungan.
Karakter ekologis lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Karena itu, Teba Modern dapat mendukung pendidikan disiplin, tanggung jawab, gotong royong, kepedulian, serta penghormatan terhadap pangan dan alam.
Manfaat Khusus bagi Sekolah Rakyat
Bagi Sekolah Rakyat, Teba Modern memiliki nilai lebih luas daripada fasilitas pengolahan sampah.
Pertama, ia mengurangi sampah organik dari aktivitas asrama melalui pemilahan sejak sumber.
Kedua, ia mendukung kemandirian pengelolaan lingkungan sekolah, karena sebagian residu dapat diolah dan dimanfaatkan kembali.
Ketiga, ia menjadi laboratorium pembelajaran lintas disiplin: biologi mempelajari dekomposisi, ilmu lingkungan mengkaji siklus material, matematika menghitung timbulan sampah, dan kewirausahaan mengembangkan hasil urban farming.
Keempat, siswa membangun karakter melalui praktik: memilah, menjaga kebersihan, menghargai pangan, bekerja bersama, dan memahami konsekuensi konsumsi.
Kelima, jika dihubungkan dengan urban farming, Teba Modern dapat mendukung ketahanan pangan skala sekolah.
Kehidupan asrama juga memungkinkan kebiasaan ekologis berlangsung konsisten selama 24 jam. Pengetahuan itu kemudian dapat dibawa siswa ke rumah dan lingkungan tempat tinggal.
Sekolah → siswa → keluarga → lingkungan → masyarakat.
Makassar Membutuhkan Sekolah yang Menjadi Bagian dari Solusi
Makassar tidak kekurangan program lingkungan. Tantangannya adalah mengubah program menjadi kebiasaan dan sistem yang hidup.
Jika sekolah-sekolah mulai mengelola sampah organiknya sendiri, langkah itu memang tidak menyelesaikan seluruh persoalan kota. Namun, setiap sekolah dapat mengurangi timbulan dari sumbernya sekaligus membentuk generasi yang memahami persoalan tersebut.
Sekolah bukan lagi sekadar pengguna sistem persampahan kota, melainkan produsen pengetahuan ekologis.
Di ruang makan, siswa belajar tentang konsumsi; di tempat sampah, mereka belajar memilah; di Teba Modern, dekomposisi; di kebun, tanah; dan di dapur, pangan. Di ruang kelas, semua pengalaman itu dihubungkan menjadi pengetahuan.
Kolaborasi yang Melampaui Seremoni
Kegiatan edukasi pada 25 September 2026 memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Kolaborasi TJSL BNI, PPI, dan Yayasan Butta Porea Indonesia sebagai mitra lokal di Sulawesi Selatan mempertemukan sumber daya, pengetahuan, dan konteks lokal.
Namun, ukuran keberhasilannya bukan sekadar apakah Teba Modern telah dibangun. Yang lebih penting adalah apakah siswa terus memilah, sistem dirawat, hasil pengolahan dimanfaatkan, guru dan pengelola asrama mampu melanjutkan, serta pengurangan sampah dicatat.
Hari Jumat adalah titik mulai, bukan titik selesai.
Sekolah sebagai Miniatur Kota
Teba Modern di Sekolah Rakyat berbicara tentang persoalan yang lebih besar: bagaimana sebuah kota belajar mengurus dirinya sendiri.
Sekolah adalah miniatur kota. Ada manusia, makanan, air, energi, konsumsi, sampah, ruang hijau, dan kebutuhan untuk mengaturnya agar tidak saling merusak.
Jika sekolah mampu mengelola sampah organik, membangun kebun, menghasilkan kompos, dan mendidik siswa memahami siklus tersebut, sekolah sedang mempraktikkan model kecil kota berkelanjutan.
Makassar tidak hanya membutuhkan warga yang tahu bahwa lingkungan harus dijaga, tetapi warga yang tahu bagaimana menjaganya.
Mengetahui adalah pengetahuan. Melakukan adalah kebiasaan. Mengajarkan orang lain adalah kebudayaan.
Ketika Sampah Menjadi Guru
Seorang siswa mungkin kelak lupa definisi ekonomi sirkular atau istilah pengelolaan sampah berbasis sumber. Namun, ia mungkin mengingat pernah mengikuti edukasi Teba Modern pada sebuah Jumat di bulan September, belajar memilah sisa makanan, memahami bagaimana bahan organik dikembalikan ke tanah, dan melihat bahwa sesuatu yang dianggap sampah masih memiliki kehidupan kedua.
Di situlah pendidikan lingkungan menemukan maknanya.
Teba Modern bukan sekadar lubang. Ia adalah ruang perjumpaan antara pengetahuan dan praktik. Kegiatan 25 September 2026 memperlihatkan bagaimana ruang itu dibangun melalui kolaborasi dunia usaha, lembaga pemerhati lingkungan, mitra lokal, para pendamping, dan penggerak lingkungan seperti Denny Pondiu, Fadly Padi, dan Mashud Azikin.
Namun, pusat seluruh proses itu tetap siswa. Tujuan akhir program lingkungan bukan fasilitas yang berdiri kokoh, melainkan manusia yang berubah cara berpikir dan bertindak.
Dari sebuah lubang kecil di halaman Sekolah Rakyat, anak-anak belajar sesuatu yang besar:
bumi bukan tempat sampah raksasa untuk menampung semua yang tidak kita inginkan.
Bumi adalah rumah. Rumah yang baik bukan hanya dibersihkan ketika kotor, tetapi dirawat sejak kita menghasilkan sesuatu yang berpotensi membuatnya kotor.
Jika prinsip itu tumbuh di Sekolah Rakyat lalu dibawa pulang oleh setiap siswa, Teba Modern tidak lagi berhenti sebagai fasilitas sekolah. Ia menjadi benih kebudayaan ekologis.
Dari benih-benih kecil itulah Makassar dapat membangun masa depan yang lebih sirkular: sampah tidak sekadar dibuang, tetapi dipahami; tidak sekadar dipindahkan, tetapi diolah; dan tidak sekadar menjadi beban, tetapi dikembalikan menjadi bagian dari kehidupan.











