NETSULSEL | Makassar, Sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan mengalami penurunan kualitas udara yang signifikan akibat pekatnya kabut asap dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan pemantauan terbaru, terdapat sekitar 12 kabupaten/kota di Sulsel yang terdampak langsung oleh penurunan kualitas udara ini, meliputi Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Maros, Bone, Bulukumba, Sinjai, Bantaeng, Sidenreng Rappang (Sidrap), serta beberapa daerah lainnya di wilayah Sulawesi Selatan.
Langit di berbagai daerah tersebut tampak berkabut kelabu dengan jarak pandang yang menurun akibat partikel halus yang melintasi batas regional.
Sumber Analisa dan Jejak Partikel Asap Karhutla
Berdasarkan analisis citra satelit dan pemodelan pergerakan polutan, kehadiran kabut asap di Sulawesi Selatan merupakan akumulasi kiriman partikulat dari luar wilayah.
Pemodelan Trajektori Angin: Analisis angin menunjukkan adanya dorongan massa udara dari arah timur serta pengaruh titik panas (hotspot) yang masif di Kalimantan dan Papua.
Transportasi Partikulat Jarak Jauh: Partikel mikroskopis hasil pembakaran hutan terbawa oleh arus angin lapis atas melintasi lautan luas, lalu bergerak ke arah barat dan barat laut hingga singgah serta terakumulasi di daratan Sulawesi. Kombinasi Sumber Lokal: Kondisi ini diperparah oleh cuaca kering, minimnya curah hujan, serta beberapa titik kebakaran lahan skala lokal di beberapa kabupaten di Sulsel yang turut menambah konsentrasi polutan di atmosfer.
Perkembangan Terkini Karhutla di Kalimantan dan Papua
Hingga saat ini, upaya penanganan kebakaran hutan di Kalimantan dan Papua masih menemui tantangan berat akibat musim kemarau yang berkepanjangan:
Kalimantan: Titik panas terpantau masih cukup tinggi. Karakteristik lahan gambut yang kering membuat api di dalam tanah (bara gambut) sulit dipadamkan secara total meskipun permukaan api tampak padam.
Papua: Karhutla yang melanda kawasan seperti wilayah Papua Selatan turut menyumbang sebaran asap lintas pulau, menuntut operasi pemadaman terpadu akibat luasnya area yang terbakar.
Kata BMKG
Menanggapi kondisi udara yang memburuk di berbagai daerah, pihak berwenang memberikan keterangan resmi terkait fenomena ini:
”Berdasarkan pemantauan atmosfer dan analisis pergerakan angin, kabut asap yang menyelimuti sekitar 12 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan seperti Makassar, Gowa, Maros, Bulukumba, Sinjai, Bantaeng, dan Sidrap merupakan partikel kiriman akibat transportasi jarak jauh (long-range transport) dari wilayah kebakaran hutan di Kalimantan dan Papua. Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap fluktuasi kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat pada waktu-waktu tertentu,” ujar prakirawan BMKG, Reski Yuda, pejabat terkait dari instansi pengawasan cuaca dan lingkungan.
”Partikel halus seperti PM-2,5 yang terbawa dalam kabut asap ini sangat mudah masuk ke saluran pernapasan dalam. Kami menyarankan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan wajib mengenakan masker standar jika terpaksa beraktivitas di luar rumah,” tambahnya.
Dampak bagi Kesehatan Masyarakat
Peningkatan konsentrasi partikel halus berukuran kecil terutama PM-2,5 membawa risiko nyata bagi kesehatan warga:
Gangguan Pernapasan Akut (ISPA): Partikel polutan dapat lolos dari saringan bulu hidung dan masuk hingga ke alveoli paru-paru, memicu batuk, sesak napas, hingga bronkitis.
Iritasi Mata dan Kulit: Kontak langsung dengan udara berkabut asap dapat menyebabkan mata perih, berair, serta gatal pada kulit.
Risiko Kelompok Rentan: Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan riwayat penyakit asma atau jantung menjadi kelompok paling rentan mengalami perburukan kondisi kesehatan.
Imbauan dan Langkah Pencegahan
Guna meminimalisir dampak buruk polusi udara akibat kiriman karhutla ini, masyarakat diimbau untuk:
Mengurangi Aktivitas Luar Ruangan: Batasi kegiatan fisik di luar rumah, terutama pada waktu dini hari hingga pagi menjelang siang hari.
Menggunakan Masker: Kenakan masker standar (seperti masker medis atau KF94/N95) saat terpaksa beraktivitas di luar ruangan.
Memperbanyak Konsumsi Air Putih: Menjaga tubuh tetap terhidrasi membantu meluruhkan zat asing yang masuk ke saluran pernapasan.
Menjaga Sirkulasi Rumah: Tutup jendela rumah saat kualitas udara memburuk dan gunakan penjernih udara (air purifier) jika tersedia.
Segera Memeriksakan Diri: Kunjungi fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala sesak napas atau batuk berkepanjangan. (ita)











