Dampak Karhutla Kalimantan, Bandara Sultan Hasanuddin Perketat Koordinasi Antisipasi Gangguan Penerbangan Akibat Cuaca Buruk. 7 Penerbangan Terganggu

suasana bandara Sultan Hasanuddin Maros

NETSULSEL | Makassar, Manajemen Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, terus memperketat pemantauan dan koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan. Langkah antisipasi ini diambil menyusul kondisi cuaca buruk sepekan terakhir yang dipicu oleh kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, yang berpotensi terus mengganggu keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan.

​Buruknya jarak pandang dan instabilitas atmosfer akibat kabut asap kiriman tersebut telah mulai memengaruhi jadwal penerbangan di bandara kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan ini. Berdasarkan data operasional per 12 Oktober 2026, tercatat sebanyak tujuh penerbangan terpaksa dibatalkan, dengan total mencapai 1.070 penumpang yang terdampak.

​Adapun rute penerbangan yang mengalami pembatalan meliputi tiga penerbangan rute Makassar–Sorong, satu penerbangan rute Makassar–Ambon, dua penerbangan rute Makassar–Ternate, serta satu penerbangan rute Makassar–Mamuju.

​Penanganan Penumpang Terdampak

​Menghadapi potensi hambatan operasional lanjutan, manajemen bandara memastikan hak-hak penumpang yang penerbangannya tertunda atau dibatalkan tetap terpenuhi. Pihak bandara langsung berkoordinasi erat dengan maskapai terkait untuk memfasilitasi penanganan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.

​Langkah-langkah penanganan yang disiapkan meliputi pengembalian dana tiket (refund), penjadwalan ulang penerbangan (reschedule), hingga penyediaan area istirahat yang layak bagi penumpang di lingkungan bandara sambil menunggu kepastian keberangkatan.

​General Manager Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Ruly Artha, menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas mutlak di tengah tantangan cuaca ekstrem dan kabut asap karhutla ini.

​”Kami terus melakukan pemantauan ketat dan berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan guna mengantisipasi dampak buruk cuaca terhadap operasional penerbangan, sekaligus memastikan pelayanan kepada penumpang tetap berjalan optimal,” ujar Ruly Artha.

​Sinergi Lintas Sektor dan Imbauan bagi Penumpang

​Dalam upaya mitigasi risiko, manajemen Bandara Sultan Hasanuddin juga menggandeng Perum LPPNPI (AirNav Indonesia) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi untuk memantau pergerakan cuaca dan sebaran kabut asap secara real-time. Informasi akurat ini menjadi acuan utama dalam pengambilan keputusan operasional penerbangan guna menghindari potensi bahaya di ruang udara.

​Mengingat kondisi cuaca buruk yang masih fluktuatif akibat karhutla di Kalimantan, pihak manajemen mengimbau kepada seluruh calon penumpang yang akan berangkat melalui Bandara Sultan Hasanuddin untuk lebih proaktif.

​”Bagi calon penumpang, kami mengimbau agar selalu memantau informasi terbaru mengenai status penerbangan melalui kanal resmi maskapai masing-masing serta memastikan kembali jadwal keberangkatan sebelum bergerak menuju bandara,” pungkasnya.

​Manajemen Bandara Internasional Sultan Hasanuddin berkomitmen untuk terus transparan dan sigap dalam menyampaikan perkembangan situasi kepada publik demi menjaga keamanan perjalanan udara di wilayah Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia. (qas)