Penulis :
Dr. Drs. Andi Djalante Mappasessu,MM.,M.Si
(Penulis Adalah : Putera Andi Mappasessu Sulewatang Amali; Serta Pemerhati Sosiologi Hukum, Pemerintahan, dan Sosial-Budaya)
Sejarah kepemimpinan La Koro Arung Padali sebagai Arung Matoa Wajo ke-41 pada periode 1885–1891 sesungguhnya menyimpan sisi lain yang menarik untuk dibaca lebih jauh. yakni apa dan bagaimana kontribusinya sebagai seorang pemimpin didalam merespons perubahan zaman melalui pembaruan organisasi pemerintahan dan penataan kekuatan pertahanan kerajaan. Pada hal dalam konteks itu La Koro sebagai seorang pemimpin sesungguhnya berada pada masa-masa situasi transisi menghadapi persoalan internal sekaligus perubahan politik eksternal yang semakin kompleks.
Dalam situasi seperti itu, seorang Arung Matoa tentunya dapat diyakini akan mendapatkan banyak tuntutan dari rakyatnya agar dapat melakukan beragam penataan terhadap perangkat kekuasaan agar kerajaan memiliki kemampuan menghadapi persoalan yang berkembang. Sumber sejarah mengenai Wajo mencatat, bahwa pada masa-masa kepemimpinannya La Koro ternyata melakukan sejumlah pengembangan dan pembaruan terkhusus dalam bidang pertahanan kerajaan dengan cara menghadirkan struktur jabatan yang berhierakhis, seperti Jenerala, Koronele, Manynyoro dan Kapiteng.
Dengan kehadiran jabatan-jabatan tersebut Nampak nyata memberi petunjuk bahwa dimasa itu sudah mulai berjalan dan ada pemikiran yang maju untuk membangun pembagian fungsi pertahanan yang lebih terorganisasi. Dengan kata lain, pertahanan tidak semata-mata dipahami sebagai kemampuan masyarakat untuk mengangkat senjata ketika menghadapi ancaman, tetapi mulai ditempatkan dalam suatu struktur yang memiliki pemimpin, kewenangan dan pembagian tugas. Dalam konteks kerajaan, perubahan semacam ini tentunya dapat dipandang sebagai bagian dari pembaruan organisasi pemerintahan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan keamanan dan pertahanan.
Di sinilah letak sisi lain Kisah Kepemimpinan La Koro Arung Matowa Wajo. Ia tampaknya memahami bahwa situasi politik yang berubah membutuhkan organisasi kerajaan yang juga mampu menyesuaikan diri. Ketika keamanan internal menghadapi persoalan, sementara kekuatan kolonial Belanda semakin memperluas pengaruhnya di Sulawesi Selatan, kerajaan membutuhkan kemampuan untuk mengelola pertahanan secara lebih terstruktur. Dan hal ini sangat beralasan untuk masa itu sebagai bagian dari respons politik sebuah kerajaan terhadap perubahan lingkungan strategis.
Dan itu pantas untuk dilakukan karena Kerajaan yang mampu menjaga keamanan wilayahnya akan memiliki ruang yang lebih besar untuk mempertahankan kewibawaan pemerintahannya. Sebaliknya, kerajaan akan semakin mudah kehilangan daya tawar ketika berhadapan dengan kekuatan dari luar. Pertahanan, dalam konteks ini, merupakan salah satu fondasi dari keberlangsungan pemerintahan.
Yang menarik, beberapa sumber lokal mengaitkan La Jalante atau Igusti Jalante, putra La Koro, dengan jabatan Petta Jinirala Tempe. Dengan demikian Ia disebut sebagai salah satu figure yang berperan dalam struktur pertahanan Wajo. Informasi semacam ini memperlihatkan kemungkinan bahwa organisasi pertahanan tidak hanya berada di pusat kerajaan, tetapi juga memiliki dimensi kewilayahan. Jika dibaca secara lebih luas, maka penempatan figur-figur tertentu pada wilayah strategis menunjukkan sebagai upaya menghubungkan pusat kekuasaan dengan kemampuan pertahanan di wilayah-wilaya strategis. Namun, rincian mengenai struktur, wilayah komando dan hubungan hierarkisnya masih perlu diverifikasi melalui sumber primer agar rekonstruksi sejarahnya semakin kuat.
Meskipun demikian dapat dikatakan, bahwa pada titik ini, pembaruan organisasi pertahanan dapat dibaca sebagai bagian dari pembaruan organisasi kerajaan secara keseluruhan. Inilah yang membuat kepemimpinan La Koro menarik untuk terus digali dan menjadi suatu kajian. Namun demikian perlu juga disadari, bahwa kita tidak bisa juga untuk kemudian menyebutkan La Koro sebagai tokoh yang seolah-olah berhasil menyelesaikan seluruh persoalan Wajo. La Koro hanya memimpin selama sekitar enam tahun. Karena itu, kontribusinya lebih tepat dilihat sebagai bagian dari proses respons kerajaan terhadap perubahan struktural yang sedang berlangsung, bukan sebagai penyelesaian akhir atas seluruh persoalan politik Wajo.
Pada akhirnya, La Koro Arung Padali Arung Matoa Wajo ke-41 dapat dibaca sebagai pemimpin yang menghadapi sebuah persimpangan sejarah. Wajo memiliki tradisi politik yang kuat, tetapi lingkungan politik di sekitarnya sedang berubah. Dalam keadaan tersebut, mempertahankan kerajaan tidak cukup dengan mempertahankan tradisi secara apa adanya. Diperlukan kemampuan melakukan penyesuaian kelembagaan tanpa kehilangan akar pranata yang telah dibangun sebelumnya. Penguatan dan pembentukan struktur organisasi pertahanan merupakan salah satu indikasi penting dari proses tersebut.
Sebab itu sisi lain yang dapat digarisbawahi, yalah kontribusi La Koro layak dibaca bukan hanya dari lamanya ia memimpin atau dari kedudukannya sebagai Arung Matoa ke-41, tetapi dari keberaniannya merespons kebutuhan zamannya melalui penataan organisasi kerajaan.
Pertahanan yang lebih terorganisasi merupakan bagian dari upaya membangun kapasitas kerajaan; dan pembaruan organisasi merupakan bagian dari kemampuan sebuah pemerintahan untuk bertahan di tengah dinamika politik.
Dari perspektif inilah warisan La Koro memperoleh makna yang lebih luas, yakni : bukan sekadar kisah sejarah tentang seorang pemimpin masa lalu, melainkan tentang bagaimana seorang pemimpin kerajaan berusaha memperbarui dirinya ketika menghadapi perubahan zaman, menjaga ketertiban di dalam, mempertahankan kewibawaan di luar, dan memastikan bahwa pranata kerajaan tetap memiliki daya hidup di tengah tekanan politik yang semakin besar pada masa itu.
Demikianlah kisah ini secara sekilas dihadirkan kehadapan para pembaca, dan semoga dengan memperhatikan sisi lain La Koro Arung Padali Arung Matoa Wajo ke-41 (1885–1891), Wajo kedepannya dapat lebih bersemangat menghadirkan sejumlah motivasi kemajuan bagi generasi selanjutnya. Salam Hormat, Salam Pancasila, dan Merdeka !!!
#isi kolom opini adalah tanggung jawab penulis





