NETSULSEL | Makassar, Langit mendua di atas Kota Makassar seolah ikut meratapi kepedihan yang teramat sangat di rumah Hamsiah dan Rahmat. Setelah dua hari didera kecemasan, penantian penuh air mata itu akhirnya terjawab lewat sebuah kenyataan yang paling mereka takuti di dunia: buah hati tercinta, Riskia Rahmat (6), pulang dalam keadaan sudah menjadi mayat.
Suasana duka langsung berubah menjadi jerit tangis histeris. Sang ibu jatuh pingsan, tak kuasa menahan hantaman pilu yang meremukkan hatinya saat melihat tubuh kaku putrinya terbujur kaku. Bocah kecil yang selama dua hari terakhir dicari dengan doa dan harapan cemas, siang ini, Senin (19/10), ditemukan mengapung tak bernyawa di pinggir kanal kawasan Barawaja, Sungai Pampang—sekitar 3 kilometer dari titik awal ia dilaporkan hilang di Kanal Sinrijala.
Tiga Hari Penantian Berujung Air Mata
Ketakutan itu bermula pada Sabtu malam (17/10) sekitar pukul 22.00 WITA. Riskia, bocah polos yang hari-harinya mestinya diisi dengan tawa dan mainan, dilaporkan hilang setelah sempat terlihat oleh anak lain turun ke aliran kanal. Sejak detik itu, waktu seolah berhenti bagi keluarga. Hari berganti malam, pencarian demi pencarian dilakukan dengan napas tersengat cemas.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari BPBD Kota Makassar, Damkarmat, SAR UNM, Balakar, TNI-Polri, hingga unsur Kecamatan Panakkukang berjibaku menyisir dinginnya air kanal. Namun, harapan keluarga agar Riskia kembali dalam pelukan hangat perlahan terkikis oleh waktu.
Hingga akhirnya pada Senin pagi pukul 10.30 WITA, sebuah kabar duka menyayat hati datang dari petugas BPBD yang sedang bertugas di lapangan. Sesosok anak perempuan ditemukan mengapung di aliran sungai Barawaja. Saat jasad mungil itu dievakuasi dan dipastikan identitasnya, runtuh sudah pertahanan keluarga. Pelukan terakhir yang dinantikan berubah menjadi isak tangis histeris di sisi jenazah sang putri.
Kepala BPBD Kota Makassar, Andi Fadli Wellang mengungkapkan jenasah Riskia ditemukan tak sengaja oleh timnya saat penyaluran air bersih dikawasan Tallo.
“ditemukan dalam keadaan terbujuk kaku dipinggir kanal Rappokalling, Melihat hal ini ia segera mengevakuasi jenasah tersebut lalu diantarkan kerumah orang tuanya. Kebetulan korban yang berumur 5-6 tahun juga dikenal penyandang autisme: kata Fadli.
Pulang ke Barru dalam Diam
Di balik dinginnya kepergian sang buah hati, duka ini meninggalkan lubang menganga yang takkan pernah terganti bagi Hamsiah dan Rahmat. Rencana kepulangan Riskia ke kampung halamannya di Kabupaten Barru—yang sedianya disambut dengan keceriaan—kini harus ditempuh dalam perjalanan duka, diiringi isak tangis keluarga dan kerabat yang mengantar kepulangannya untuk beristirahat dengan tenang.
Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam bagi siapa pun yang mendengarnya, sekaligus menjadi pengingat pilu bagi para orang tua akan mahalnya sebuah pengawasan di tengah bahaya aliran air terbuka yang mengancam keselamatan anak-anak kita.(ita)











