Fenomena Langka Hujan Es Gegerkan Warga Lampung Barat, BMKG Jelaskan Pemicunya

screenshoot video amatir warga yang dipertajam AI (AI bisa melakukan kesalahan)

NETSULSEL | ​Lampung Barat, Warga di sejumlah wilayah Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, dikejutkan oleh fenomena cuaca ekstrem berupa hujan es (hailstorm) yang terjadi pada Minggu sore kemarin (1/11/2026). Butiran es sebesar kelereng turun bersamaan dengan guyuran hujan lebat yang disertai angin kencang dan gemuruh petir, membuat warga sempat panik dan memilih bertahan di dalam rumah.

​Peristiwa yang berlangsung sekitar 15 hingga 20 menit tersebut sempat diabadikan oleh sejumlah warga melalui kamera ponsel dan beredar luas di berbagai platform media sosial, memicu rasa penasaran publik terhadap dinamika cuaca yang terjadi belakangan ini.

​Ulasan Fenomena dan Penjelasan BMKG
​Menanggapi peristiwa tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan ilmiah terkait fenomena alam yang tergolong jarang terjadi secara masif di permukiman warga ini.

​Menurut pihak BMKG, hujan es merupakan fenomena cuaca ekstrem lokal yang lazim terjadi pada masa peralihan musim (pancaroba) atau pada musim hujan dengan kondisi pemanasan permukaan bumi yang cukup kuat pada pagi hingga siang hari.

​”Fenomena hujan es ini sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan awan konvektif jenis Cumulonimbus (Cb). Di dalam awan tersebut, terdapat arus udara naik yang sangat kuat (updraft), yang mampu mengangkat butiran air ke lapisan atmosfer bagian atas yang suhunya berada di bawah titik beku (freezing level),” ujar prakirawan cuaca BMKG saat dikonfirmasi, Senin (2/11/2026).

​Lebih lanjut, pihak BMKG menjelaskan bahwa karena massa udara naik tersebut tidak mampu lagi menahan berat butiran es yang terbentuk di puncak awan, es tersebut akhirnya jatuh ke permukaan bumi sebelum sempat mencair sepenuhnya. Hal inilah yang menyebabkan butiran es tetap berwujud padat saat menyentuh tanah.

​Kesaksian Warga dan Imbauan Kewaspadaan
​Salah satu warga setempat, Ridwan (38), mengaku kian terkejut saat mendengar suara hanturan keras di atap rumahnya yang menyerupai jatuhnya kerikil dalam jumlah banyak.

​”Awalnya saya kira ada yang melempar atap rumah pakai batu. Begitu saya cek ke teras, ternyata butiran es berukuran sebesar kelereng berserakan di halaman. Kejadiannya sangat cepat, sekitar belasan menit disusul angin kencang,” ungkap Ridwan saat diwawancarai.

​Pihak BMKG mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah Lampung dan sekitarnya, untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan. Mengingat dinamika atmosfer yang masih labil pada periode pancaroba ini, potensi angin kencang, puting beliung, dan hujan es masih dapat terjadi secara tiba-tiba di wilayah lokal dengan karakteristik topografi tertentu. (inka)