NETSULSEL | Makassar, Dinamika politik Pergantian Antar Waktu (PAW) DPR RI dari Partai NasDem kembali menghadirkan drama yang menyita perhatian publik. Politisi perempuan asal Sulawesi Selatan, Putri Dakka, harus menelan pil pahit setelah dirinya batal melenggang ke Senayan.

Padahal, sejak beberapa hari terakhir, jagat media sosial telah diramaikan oleh beredarnya poster digital ucapan “Selamat & Sukses” atas penetapan dirinya sebagai anggota DPR RI fraksi NasDem melalui jalur PAW.
Namun, realitas politik berkata lain. Keputusan akhir partai justru menunjuk figur lain dari Daerah Pemilihan (Dapil) yang sama untuk mengisi kursi lowong tersebut.
Harapan yang Gugur Sebelum Pelantikan
Bagi seorang politisi, momentum PAW kerap menjadi angin segar sekaligus ujian loyalitas. Sumber terdekat menyebutkan bahwa Putri Dakka sempat optimis namanya yang akan keluar, mengingat kontribusi dan perolehan suaranya pada pemilu legislatif lalu.
Ucapan selamat yang telanjur membanjiri grup-grup WhatsApp dan media sosial kini berubah menjadi buah bibir yang sarat akan rasa simpati. Kasus ini menjadi potret nyata betapa cair dan dinamisnya keputusan di tingkat pusat partai, di mana restu akhir bisa berubah bahkan di detik-detik terakhir jelang ketukan palu.
”Dalam politik, sebelum ada surat keputusan (SK) resmi yang ditandatangani di atas meterai dan pelantikan dilakukan, semua klaim di media sosial hanyalah prediksi. Kasus Putri Dakka ini adalah contoh klasik bagaimana seorang kader bisa ‘kecele’ oleh euforia pendukungnya sendiri,” ujar sumber internal nasdem sulsel yang menolak namanya disebut.
Respons Pendukung: Antara Kecewa dan Tetap Setia
Gagalnya Putri Dakka melaju ke Senayan memicu reaksi beragam dari para simpatisannya. Banyak yang menyayangkan keputusan partai yang dianggap tidak sesuai dengan ekspektasi awal di akar rumput.
Meskipun harus menghadapi situasi yang kurang menyenangkan secara psikologis dan politis—terutama setelah poster wajahnya berbaju dinas NasDem telanjur viral—Putri Dakka dikenal sebagai figur yang tangguh. Di media sosialnya, para pendukung terus memberikan penguatan agar sang politisi tidak patah arang dan tetap bergerak menjembatani kebutuhan rakyat meski di luar parlemen.
Dosa Putri Dakka?
Saat Pemilihan Legislatif kemarin. Putri Dakka, meraih 53.700 suara. Namun suara pileg yang tegrolong tinggi ini justeru Ia disebut telah meninggalkan Partainya. Keputusan Putri ini diambil menjelang kontestasi Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Palopo. Putri Dakka dikabarkan telah menyeberang ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk meraih dukungan partai mocong putih tersebut sebagai tiket untuk maju Pilwali kota Palopo.
Putri Dakka juga pernah ditetapkan tersangka oleh Polda Sulsel meski pada akhirnya status itu dicabut oleh Polda karena kurangnya bukti. PD dilaporkan atas dugaan perkara yang menipu calon jemaah umrahnya sebesar Rp1,9 miliar.
Dalam mekanisme Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota legislatif, syarat krusial yang harus dipenuhi adalah calon pengganti harus berasal dari partai politik yang sama dan merupakan peraih suara terbanyak, Putri Dakka memiliki syarat itu. Inilah kabar kepindahan partai yang menjadi batu sandungan besar bagi Putri Dakka.
Hingga berita ini diturunkan, pihak internal partai maupun Putri Dakka sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait dinamika final dari proses PAW ini. Berbagai sumber menyebut jika Putri gemar gonta ganti nomor kontak, bahkan ketika nomor kontak Putri diupakan diperoleh dari suaminya, mereka tetap menolak memberi.

Namun, satu hal yang pasti: peristiwa ini kembali menegaskan adagium lama bahwa dalam politik, tidak ada yang benar-benar pasti hingga semuanya benar-benar terjadi. (ita)















