NETSULSEL | Makassar, Tantangan pengelolaan laut global akibat perubahan iklim dan kerusakan pesisir kian mengkhawatirkan. Merespons kondisi ini, Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar mengambil langkah strategis dengan menggandeng dua perguruan tinggi raksasa asal Tiongkok untuk menerapkan teknologi Marine Ranching (peternakan laut modern).
Kolaborasi internasional ini diwujudkan melalui program “Talent Cultivation and Technical Personnel Training Course: China-Indonesia Marine Ranching Technology” yang digelar di Ruang Sidang FIKP Unhas, Kampus Tamalanrea, Selasa (23/06). Dalam program ini, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas berkolaborasi langsung dengan Shanghai Ocean University dan Guangdong Ocean University.
Solusi Cerdas Hadapi Perubahan Iklim
Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi, dan Alumni FIKP Unhas, Prof. Mukti Zainuddin, Ph.D., menjelaskan bahwa teknologi marine ranching merupakan pendekatan mutakhir untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus melindungi ekosistem dari dampak buruk perubahan iklim.
”Melalui kegiatan ini, kita mendapatkan pengalaman langsung mengenai teknologi marine ranching. Kita dapat membangun sistem pengelolaan laut yang lebih baik untuk mendukung komunitas global,” ujar Prof. Mukti.
Senada dengan hal tersebut, Vice President Shanghai Ocean University, Prof. Weijie Ni, menyambut baik kolaborasi ini. Ia berharap transfer teknologi ini mampu melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat luas.

”Kami sangat senang dapat bekerja sama dengan Unhas. Kami berharap dapat bersama-sama membangun inovasi teknologi kelautan yang bermanfaat bagi masyarakat global,” ungkap Prof. Weijie Ni.
3 Pilar Teknologi Kelautan Masa Depan
Pelatihan yang dihadiri oleh akademisi, peneliti, dan mahasiswa dari kedua negara ini menghadirkan tiga pakar kelautan internasional sebagai narasumber, yaitu Dr. Shike Gao, Dr. Ning Chen, dan Shuxia Jiang.
Materi yang dibahas mencakup tiga aspek krusial yang menjadi fondasi masa depan kelautan.
Environmental Assessment, Kajian mendalam mengenai kondisi ekosistem laut untuk menentukan strategi pengolahan kawasan marine ranching yang tepat.
Manajemen Sumber Daya Laut. Pendekatan tata kelola modern yang mendukung keberlanjutan ekosistem jangka panjang.
Teknologi Monitoring Modern. Pemanfaatan inovasi digital dan data untuk memantau kawasan laut secara efektif dan real-time.
Pintu Gerbang Internasional bagi Mahasiswa
Sementara itu, Direktur Kemitraan Unhas, Ansariadi, Ph.D., menilai program ini merupakan peluang emas bagi mahasiswa Unhas untuk meningkatkan kompetensi dan memperluas wawasan global.
”Kami sangat senang mahasiswa dapat bergabung. Materi dari para ahli Tiongkok ini diharapkan memberi manfaat nyata. Ini juga menjadi pintu masuk bagi mahasiswa Unhas untuk meraih peluang melanjutkan studi dan membangun jejaring akademik di Tiongkok,” pungkas Ansariadi.
Melalui sinergi ini, Unhas kembali mempertegas posisinya sebagai pionir menara akademis yang tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga menghadirkan solusi teknologi nyata demi menjaga napas samudra tetap lestari.
















