
NETSULSEL | Bulukumba, Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf, menyampaikan pesan menohok saat menghadiri acara Silaturahmi Da’i dan Muballigh se-Kabupaten Bulukumba di Aula Kahayya, Lantai 4 Gedung Pinisi, Rabu (9/9/2026). Di hadapan para penceramah dan tokoh agama, Bupati yang akrab disapa Andi Utta ini menegaskan bahwa dakwah Islam tidak boleh berhenti sekadar pada retorika akhlak dan tafsir keagamaan semata, melainkan harus menyentuh realitas perut dan ekonomi masyarakat.
Dalam nada bicaranya yang lugas, Andi Utta mengingatkan bahwa persoalan moral dan tindakan kriminal sering kali berakar dari tekanan ekonomi yang berimpit.
“Jangan hanya ceramah soal akhlak dan tafsir saja, sementara kondisi ekonomi masyarakat di bawah masih susah. Bagaimana agamanya bisa baik kalau untuk makan saja susah? Akhirnya, sapi orang masih saja dicuri (dijangkar), pekerjaan yang tidak halal masih saja nekat dilakukan karena terpaksa memenuhi kebutuhan hidup,” cetus Andi Utta.
Oleh karena itu, Bupati berlatar pengusaha ini mengajak para da’i dan muballigh untuk tidak menutup mata terhadap realitas sosial tersebut. Menurutnya, dakwah hari ini harus diintegrasikan dengan edukasi ketahanan pangan dan gerakan kemandirian ekonomi.
“Pemerintah adalah pemberi solusi, dan da’i diharapkan ikut mengedukasi masyarakat. Kita harus ubah mindset, dari pemalas menjadi pekerja keras. Tentu ini tidak mudah, makanya peran da’i sangat penting untuk membimbing sekaligus memberi keteladanan nyata,” tegasnya.
Andi Utta menambahkan, selama kurang lebih enam tahun memimpin Bulukumba, pembangunan fisik dan infrastruktur monumental relatif berhasil diwujudkan—seperti Gedung Pinisi, kawasan Pantai Merpati, hingga Gedung Ammatoa. Namun, tantangan terberat baginya bukanlah membangun gedung, melainkan mengubah mentalitas dan pola pikir masyarakat dari konsumtif menjadi produktif.
“Saudaraku para da’i, bantu saya membina masyarakat. Kuncinya adalah memaksimalkan potensi alam yang kita miliki. Beri pemahaman kepada jamaah bahwa berjuang mencapai kemandirian ekonomi itu juga bagian dari ibadah. Tokoh agama harus jadi contoh, jangan hanya pandai berbicara di atas mimbar tapi tidak bisa dicontoh dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Ia meyakini, apabila ekonomi masyarakat kuat dan mandiri, pelbagai persoalan sosial seperti pencurian, gangguan Kamtibmas, hingga kemerosotan kualitas ibadah secara otomatis akan teratasi.
Sementara itu, Pimpinan BAZNAS Kabupaten Bulukumba, Muhammad Yusuf Shandy, mengapresiasi arahan Bupati. Ia menjelaskan bahwa silaturahmi ini digelar atas kerja sama Pemkab dan BAZNAS Bulukumba guna mempererat sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan.
“Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari 27 organisasi da’i, muballigh, dan ormas Islam se-Kabupaten Bulukumba. Ini merupakan tindak lanjut dari arahan Bapak Bupati untuk terus merawat komunikasi dan silaturahmi dengan para ulama dan penceramah,” ungkap Yusuf Shandy.
Selain Bupati Bulukumba, forum silaturahmi tersebut juga menghadirkan narasumber utama lainnya, yaitu Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bulukumba, Dr. H. Abd. Rafik, M.Pd., serta mantan Ketua BAZNAS Kota Makassar, Dr. H. Ashar Temanggong, S.Ag., M.Pd.
Turut hadir dalam acara tersebut Kabag Kesra Setda Bulukumba Hj. Syamiah, Ketua BAZNAS Bulukumba H. Kamaruddin, Ketua DMI Bulukumba H. Andi Mattotorang, serta jajaran tokoh agama se-Kabupaten Bulukumba.(ita)











