Fenomena Hunter’s Moon Hiasi Langit Oktober 2026, BMKG Ungkap Dampak dan Waktu Terbaik Menyaksikannya

fenomena Hunter Moons

NETSULSEL | ​Jakarta, Langit malam Indonesia bersiap menyambut kemunculan fenomena astronomi menarik bertajuk Hunter’s Moon atau yang dikenal sebagai Bulan Pemburu. Fenomena bulan purnama ini dijadwalkan menghadirkan pemandangan visual yang memukau sekaligus menjadi perhatian khusus bagi otoritas meteorologi terkait potensi dampaknya terhadap alam.

​Penjelasan BMKG dan Asal-Usul Istilah
​Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa Hunter’s Moon merupakan sebutan tradisional untuk fase bulan purnama yang terjadi tepat setelah Harvest Moon. Secara fisik, tidak ada perbedaan mencolok antara bulan purnama ini dengan purnama biasa, namun ia memiliki latar belakang budaya dan karakteristik historis yang unik.

​Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, memaparkan detail mengenai fenomena tersebut kepada publik.

​”Hunter’s Moon merupakan sebutan tradisional bagi bulan purnama yang muncul setelah Harvest Moon, biasanya pada bulan Oktober. Istilah ini berasal dari tradisi masyarakat di belahan bumi utara yang dikaitkan dengan waktu berburu sebagai persiapan menghadapi musim dingin. Secara fisik, Hunter’s Moon aman dilihat dengan mata tanpa perlu pelindung khusus,” ujar Teguh Rahayu dalam keterangan resminya.
​Secara historis, setelah musim panen usai, ladang-ladang menjadi terbuka sehingga memudahkan hewan liar keluar, yang pada masa lalu dimanfaatkan para pemburu untuk mengumpulkan persediaan daging sebelum musim dingin tiba.

​Dampak pada Alam: Potensi Banjir Rob di Pesisir
​Selain keindahannya, fase bulan purnama secara ilmiah memberikan pengaruh gravitasi terhadap dinamika perairan di bumi. BMKG memberikan peringatan dini kepada masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir untuk tetap waspada terhadap potensi kenaikan muka air laut.

​Peningkatan Pasang Air Laut: Gaya tarik gravitasi benda langit yang selaras berpotensi memicu fenomena pasang maksimum air laut atau yang dikenal sebagai banjir rob.

​Imbas di Wilayah Pesisir: Masyarakat yang beraktivitas di sekitar pelabuhan, tambak, atau permukiman pesisir diimbau untuk mengantisipasi genangan air laut yang dapat memengaruhi mobilitas harian.

​Kendati demikian, BMKG menegaskan bahwa fenomena ini secara umum aman disaksikan dan tidak menimbulkan bencana luar biasa, asalkan warga di daerah rawan tetap siaga memantau pembaruan informasi cuaca maritim.

​Waktu Terbaik Mengamati Hunter’s Moon
​Bagi masyarakat yang ingin menikmati keindahan langit malam, puncak fenomena ini dapat disaksikan dengan mata telanjang tanpa bantuan alat optik khusus seperti teleskop.

​Waktu Ideal: Pengamatan paling optimal disarankan mulai pukul 20.00 waktu setempat, ketika posisi bulan sudah cukup tinggi di langit dengan kondisi cuaca yang cerah dan minim polusi cahaya.(ita)