Geliat Ekonomi Baru dari Limbah Hutan: Dosen Unhas Sulap Bambu Jadi Produk Kriya Bernilai Tinggi

Melalui inovasi teknologi laminasi bambu terwarnai, tim tim dosen Program Studi Rekayasa Kehutanan Fakultas Kehutanan Unhas berhasil menyulap material sisa menjadi produk kriya (handicraft) bernilai estetika dan bermutu ekonomi tinggi. Sentuhan warna sintetis yang dipadukan dengan teknik laminasi canggih ini tak hanya mempercantik tampilan bambu, tetapi juga membuka peluang pasar kreatif yang luas bagi masyarakat pesisir kawasan hutan.

NETSULSEL | Makassar, Di tangan para akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas), limbah hasil hutan yang kerap terabaikan kini menemukan napas baru yang penuh harapan. Melalui inovasi teknologi laminasi bambu terwarnai, tim tim dosen Program Studi Rekayasa Kehutanan Fakultas Kehutanan Unhas berhasil menyulap material sisa menjadi produk kriya (handicraft) bernilai estetika dan bermutu ekonomi tinggi. Sentuhan warna sintetis yang dipadukan dengan teknik laminasi canggih ini tak hanya mempercantik tampilan bambu, tetapi juga membuka peluang pasar kreatif yang luas bagi masyarakat pesisir kawasan hutan.

​Inovasi bernilai tambah ini resmi disemai kepada warga di sekitar Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Hutan Pendidikan Unhas, Kabupaten Maros, Sabtu (25/7/2026). Program yang didukung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unhas ini dirancang untuk mengubah pola pikir masyarakat dalam memandang potensi lingkungan sekitar. Sepanjang pelatihan, warga tampak antusias mempraktikkan langsung olahan laminasi bambu, mencerminkan besarnya asa untuk meraih kemandirian ekonomi dari keterampilannya yang baru.

​Ketua Pelaksana Kegiatan, Prof. Dr. Ir. Andi Detti Yunianti, M.P., menegaskan bahwa potensi ekonomi dari pengolahan bambu laminasi sangat besar jika dikelola secara terarah. Menurutnya, kolaborasi antara akademisi dan masyarakat adalah kunci utama untuk menciptakan ekosistem industri kreatif berbasis hasil hutan yang berkelanjutan.

​”Saya berharap masyarakat sekitar KHDTK Hutan Pendidikan dapat bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Unhas untuk menyiapkan bahan baku pembuatan handycraft dari laminasi bambu,” tutur Prof. Andi Detti penuh harap saat mengedukasi warga.

​Langkah transformatif ini tidak hanya sebatas pemberdayaan ekonomi lokal, melainkan juga wujud nyata komitmen perguruan tinggi dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Inovasi ini secara langsung menyokong pencapaian pertumbuhan ekonomi (SDG 8), hilirisasi riset industri (SDG 9), produksi yang bertanggung jawab melalui pemanfaatan limbah (SDG 12), serta menjaga kelestarian ekosistem daratan (SDG 15).

​Aksi pengabdian masyarakat ini menjadi bukti nyata bahwa sains tidak hanya bersemayam di ruang kelas, tetapi mampu menjelma menjadi jalan perubahan bagi kesejahteraan warga. Melalui sinergi antara teknologi tepat guna dan semangat kemitraan warga Maros, limbah hutan yang dulunya dingin kini kembali membakar optimisme ekonomi masa depan.(qas)