NETSULSEL | Makassar, Perkembangan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence / AI) generatif kini menghadirkan ancaman baru yang mengintai tumbuh kembang anak. Sejumlah peneliti mendapati bahwa maraknya konten anak instan di platform digital tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan sebuah bentuk eksploitasi terstruktur yang dapat merusak fokus dan fungsi kognitif anak.
Berdasarkan pemetaan fenomena yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Federal de Minas Gerais (UFMG), konten tersebut kerap menampilkan visual bizar—seperti kuda berbadan manusia yang lahir dari dalam telur, hewan peternakan yang disuntik agar berubah warna, hingga musik tanpa refrein dalam bahasa fiktif.
Pakar dan analis AI, Izabela Anholett, mengungkapkan bahwa pola gambar cepat serta layar berwarna yang berkedip tanpa henti sengaja dirancang untuk membajak perhatian anak.
”Ketika konten dibuat untuk menghipnotis, itu bukanlah hiburan, melainkan sebuah jebakan,” tegas Izabela Anholett dalam analisisnya.
Temuan ini sejalan dengan studi ilmiah tahun 2026 dari Revista Ibero-Americana de Humanidades, Ciência e Educação, yang menyebutkan bahwa paparan kontinu terhadap konten hiper-stimulatif dapat membahayakan rentang perhatian (attention span), memori, kemampuan bahasa, hingga kontrol emosional anak. Akibatnya, anak-anak terlatih mencari kepuasan instan dan kehilangan kemampuan berkonsentrasi pada hal lain yang tidak menghasilkan respons dalam hitungan detik.
Ancaman ini menjadi semakin krusial mengingat masa pertumbuhan emas anak. Rachel Franz, perwakilan dari organisasi perlindungan anak asal Amerika Serikat, Fairplay, menjelaskan bahwa periode usia dini memegang peranan mutlak bagi masa depan anak.
”Otak anak mencapai 90% dari ukuran dewasa pada usia 5 tahun, dan apa yang dikonsumsi anak selama periode waktu tersebut dapat membentuk perkembangan mereka selamanya,” ujar Rachel Franz.
Di balik dampak buruk tersebut, lonjakan produksi konten ini didorong oleh kemudahan automasi demi mengeruk keuntungan finansial. Sebagai gambaran, ditemukan sebuah kanal YouTube khusus anak yang dibentuk pada Agustus 2025 dan mampu menelurkan hingga 10.000 video dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, dengan rata-rata publikasi mencapai 50 video per hari.
Kendati demikian, Anholett menegaskan bahwa teknologi AI bukanlah akar masalah atau penjahat utamanya. Perbedaan krusial terletak pada intensi atau niat dari kreator di balik layar.
”Siapa pun yang ingin menghasilkan uang dengan cepat, menggunakan AI sebagai pabrik. Sedangkan mereka yang ingin menggunakan sesuatu yang bernilai, menggunakan AI sebagai studio,” pungkas Anholett.
Sebagai contoh pemanfaatan positif, sebuah video kolaborasi berbasis AI yang menampilkan bintang sepak bola Neymar bersama versi masa kecilnya sukses mendulang lebih dari 53 juta penayangan dan membawa resonansi emosional yang kuat bagi publik. Pemilihan fungsi AI ini dinilai menjadi penentu utama dalam perebutan masa depan generasi berikutnya. (helmi)






