
NETSULSEL | Makassar, Malam di kawasan Panakkukang selalu punya caranya sendiri untuk menenun cerita. Di antara samar denting cangkir dan hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur pada Jumat malam itu, sebuah narasi besar sedang dirajut. Bukan di dalam ruang rapat berpendingin udara yang kaku, melainkan di balik kehangatan sudut kafe tempat gagasan-gagasan besar kerap lahir secara bersahaja.
Malam itu, Haji Badris Salam sosok yang jejak tangannya telah memahat lanskap perumahan di kawasan Indonesia Timur duduk melingkar bersama Wali Kota Parepare, Tasming Hamid, Wakil Bupati Sinjai, Andi Mahyanto Mazda, serta Mistang Hamid. Di tengah perbincangan yang hangat, hadir pula anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Andi Muzakkir Aqil, memperlengkap simfoni gagasan malam itu.

Di balik tawa renyah dan cangkir kopi yang perlahan mendingin, ada denyut nadi pembangunan yang sedang dibicarakan. Sektor properti di Sulawesi Selatan kini bukan sekadar tentang menumpuk bata dan semen, melainkan tentang merespons dinamika zaman. Data menunjukkan bahwa kebutuhan hunian masyarakat di Sulawesi Selatan terus melaju pesat seiring bertumbuhnya kelas menengah dan konektivitas antardaerah yang kian terbuka. Di tengah gelombang ini, Kota Parepare berdiri sebagai episentrum strategis kota niaga dan jasa yang merindukan pemukiman berkualitas, ramah lingkungan, dan terjangkau bagi warganya.
Bagi Badris Salam, figur kunci yang kini berhembus kencang digadang-gadang bakal memimpin DPD Real Estate Indonesia (REI) Sulawesi Selatan, properti adalah seni merawat harapan manusia. Di tengah dinamika DPD REI Sulsel yang menuntut kepemimpinan adaptif, kolaboratif, dan visioner, Badris melihat bahwa tantangan terbesar perumahan hari ini tidak bisa diselesaikan oleh pengusaha sendirian.
”Selain silaturahmi dan mengobrol santai Jumat malam, kami bertukar pikiran mengenai peluang investasi perumahan di Kota Parepare. Sinergi antara dunia usaha dan pemerintah kota sangat krusial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan,” tutur Badris dengan nada tenang namun penuh penekanan.
Perkataan itu bukan sekadar formalitas diplomasi. Di matanya, Parepare memiliki ceruk potensi yang luar biasa. Sebagai kota pelabuhan dan penghubung jalur utara Sulawesi Selatan, kebutuhan akan hunian yang layak dan terintegrasi menjadi syarat mutlak untuk menopang laju pertumbuhan ekonomi lokal. Ketika pemerintah daerah membuka pintu kemudahan berinvestasi dan dunia usaha hadir membawa visi, maka yang tercipta bukan cuma deretan rumah, melainkan peradaban baru bagi keluarga-keluarga di Kota Habibie tersebut.
Pertemuan informal di Panakkukang malam itu akhirnya menegaskan satu hal: pembangunan terbesar kerap kali dimulai dari dialog yang paling jujur. Di balik figur-figur yang melingkar di meja kopi malam itu, ada sebuah komitmen tersirat bahwa dari Sulawesi Selatan, untuk Parepare, sebuah asa tentang rumah yang nyaman bagi setiap anak bangsa sedang perlahan diwujudkan. (ita)














