
NETSULSEL | Makassar, Pemandangan tak biasa sekaligus memilukan kini mewarnai wajah Kota Makassar. Hampir di seluruh penjuru kota, garis antrean kendaraan tak lagi sekadar memadati area dalam SPBU, melainkan mengular panjang memakan badan jalan utama hingga mencapai 1 hingga 3 kilometer.
Yang menarik antrian tak hanya dijumpai di SPBU utama, di stasiun pengisian bbm kelas kaki lima yang biasa disebut Pertamini, juga memperlihatkan antrian yang didominasi oleh kendaraan motor. Padahal harga bbm jenis pertalite di stasiun mini ini, melonjak hingga 60 persen.
Krisis dan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi beberpa pekan belakangan ini telah menorehkan keresahan mendalam bagi warga. Dari terik matahari siang hingga larut malam bahkan hampir 24 jam nonstop, deretan truk ekspedisi, mobil pribadi, angkutan umum, hingga sepeda motor tampak bertahan dalam ketidakpastian demi mendapatkan beberapa liter bahan bakar.
Laju lalu lintas di ruas-ruas protokol seperti Jalan A.P. Pettarani, Jalan Perintis Kemerdekaan, hingga kawasan Sultan Alauddin mendadak lumpuh dan merayap. Ruas jalan yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian warga, kini tersita oleh deretan kendaraan yang mengantre BBM.
Menunggu 4 Jam yang Berujung Sia-Sia
Di balik deretan kendaraan yang mengular, ada cerita duka dan kekecewaan mendalam dari para pengendara. Tak sedikit warga yang harus mengorbankan waktu kerja dan istirahat mereka hanya untuk berdiri atau duduk berjam-jam di atas kendaraan.
Fakta pahit di lapangan menunjukkan betapa melelahkannya situasi ini. Banyak pengendara yang sudah sabar mengantre hingga 4 jam lamanya, namun tepat saat gilirannya tiba di depan nozzle pengisian, petugas SPBU justru memasang papan pengumuman: “BBM Habis”.
”Sudah dari jam sembilan pagi ikut antre panjang, ikut merayap sedikit demi sedikit. Pas giliran mobil saya sudah mau masuk ke dekat mesin pompa, petugasnya bilang Pertalite dan Solar-nya habis. Sakit sekali rasanya, waktu habis empat jam terbuang sia-sia, kerjaan terbengkalai, bensin di tangki malah makin tipis dipakai mengantre,” keluh salah seorang perempuan dengan nada frustrasi.
Ada lagi yang lebih parah, salah satu SPBU dikawasan jalan Pettarani. Petugasnya membiarkan warga mengantri sekian jam padahal stok BBM nya telah habis.
“Saya disini sudah tunggu dari satu jam lalu, ternyata ndak adami pertalite. Petugasnya juga ndak bilang-bilang sudah habis.” keluh Udin, seorang warga dari Antang Makassar yang sudah mendatangi sejumlah SPBU yang menemukan juga kosong stok.
Asap Kendaraan dan Roda Ekonomi yang Terhambat
Keresahan ini tidak hanya berdampak pada mereka yang mencari bahan bakar, tetapi juga melumpuhkan aktivitas Kota Makassar secara keseluruhan. Para sopir angkutan logistik dan bahan pokok mengaku kerugian mereka berlipat ganda. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mendistribusikan barang dagangan kini habis menguap di pinggir jalan.
Efek domino dari antrean panjang ini juga memicu kemacetan parah yang merugikan pengguna jalan lain. Ambulans yang membawa pasien kritis hingga warga yang hendak berangkat kerja kerap terjebak di tengah kepungan kendaraan yang mengantre SPBU.
Masyarakat Kota Makassar kini berada dalam titik jenuh. Mereka tak lagi butuh sekadar narasi penenang atau janji bahwa stok aman di tingkat pusat. Yang dibutuhkan warga di lapangan adalah solusi konkret dan tindakan nyata: kepastian pasokan BBM sampai ke pompa pengisian tanpa harus mengorbankan jam kerja, tenaga, dan ruang publik kota. (baba)










