Menembus Sunyi di Atas Panggung, Isak Haru Iringi Monolog Hening Noval, Siswa Tuli yang Memukau Ratusan Penonton

NETSULSEL | M​akassar, Keheningan yang magis menyelimuti Aula Handayani SLB Negeri 1 Kota Makassar pada Rabu pagi (15/6/26) ini. Di hadapan ratusan pasang mata yang memadati ruangan, seorang remaja berdiri tegak di tengah panggung. Ia adalah Abdirrohman Ash Shiddiq, atau akrab disapa Noval. Selama lima belas menit penuh, siswa penyandang tuna rungu (tuli) ini mementaskan teater monolog bertajuk “Monolog Hening” seorang diri. Tanpa untaian kata lisan, Noval berhasil menguras emosi penonton lewat bahasa tubuh dan mimik wajah yang begitu ekspresif.

teater Monolog Hening oleh Noval

​Aksi teater monolog perdana di sekolah khusus Sulawesi Selatan ini menceritakan getir sekaligus indahnya perjalanan hidup seorang pemuda tuli. Melalui sudut pandang personal, Noval menggambarkan bagaimana ia merajut asa di tengah masyarakat yang sering kali menutup mata dan minim pemahaman terhadap kaum disabilitas. Melalui sorot matanya, Noval seolah berbisik bahwa dunianya tidak pernah sunyi, dunia itu justru sangat kaya akan warna, gerak, dan makna terdalam yang sering gagal dipahami oleh mereka yang bisa mendengar.

Teatee Monolog Hening oleh Noval

​Keberhasilan Noval berdiri di atas panggung tidak lepas dari tangan dingin Muh. Irsan, S.Hum., sutradara dari Kala Teater, komunitas seni pertunjukan paling aktif di Makassar sejak tahun 2026. Hanya dalam kurun waktu kurang dari sepekan, Irsan mampu memoles bakat terpendam Noval menjadi sebuah penampilan seni peran yang matang dan setara dengan kemampuan siswa nonsensorik lainnya.

​”Tema ‘Monolog Hening’ yang diperagakan Noval ini adalah sebuah ajakan bagi kita semua untuk bersikap lebih dewasa secara sosial. Kami ingin menghentikan segala bentuk diskriminasi, pelecehan, dan tindakan perundungan yang menyasar keterbatasan fisik anak-anak istimewa ini. Mereka juga butuh berkembang di masyarakat dan memiliki masa depan yang sukses,” tutur Muh. Irsan, S.Hum., Sutradara & Inisiator Program Monolog Hening.

​Kepala Bidang PKPLK Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Sary Diana Muallim, S.Sos., MM., yang turut menyaksikan pementasan tersebut tidak dapat menyembunyikan rasa bangga dan harunya. Air mata apresiasi tampak menyelimuti wajah para orang tua dan guru yang hadir saat gemuruh tepuk tangan membahana begitu pementasan berakhir.

Sary Diana Muallim, mengapresiasi dengan kegiatan teater ini. Sary berharap kegiatan serupa juga bisa dibawa kesekolah-sekolah lainnyaa di Sulawesi Selatan

​”Saya sangat bangga dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk kegiatan luar biasa ini. Bimbingan teater seperti ini membekali anak-anak kita dengan keterampilan baru yang sangat bisa diandalkan. Saya berharap program semacam ini tidak berhenti di SLBN 1 saja, tetapi juga menyebar ke seluruh SLB di daerah-daerah Sulawesi Selatan agar semakin banyak bakat terpendam anak disabilitas yang tergali hingga mampu bersaing di tingkat nasional,” ungkap Sary Diana Muallim.

Plt. Kepala Sekolah SLBN 1 kota Makassar, DR Muhammad Nur, M.Pd mengaku sangat mengapresiasi hadirnya kelas teater di sekolah yang dipimpinnya. Ia mengatakan bahwa untuk mengembangkan talenta dan bakat siswa, dibutuhkan sebuah kolaborasi dengan berbagai pihak yang akan mencari dan membentuk bakat siswa yang sangat berguna sebagai penunjang kehebatannya kelak.

“Sekolah itu bisa maju kalau ada kolaborasi dengan masyarakat, dengan industri apalagi pemerintah. Hadirnya Kala Teater membawa dampak tak sedikit untuk anak-anak, mereka bisa mengenal apa itu teater dan sebelumnya yang mereka tak pahami. Ini tak hanya berguna bagi pengembangan karakter bagi siswa, tapi juga memberi inspirasi bagi guru-guru dalam mengembangkan khazanah mengajar dikelas” kata Muhammad Nur,

​Pementasan ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah sekat untuk melahirkan karya seni yang agung. Noval hanyalah satu dari ratusan anak di SLBN 1 Makassar yang memikul harapan ribuan anak disabilitas di Sulawesi Selatan agar mendapatkan ruang setara untuk bertumbuh, berkarya, dan dicintai apa adanya. (ita)