
NETSULSEL | Palu, Dalam dunia olahraga, tidak ada atlet profesional yang lahir dalam semalam. Mereka adalah produk dari ribuan jam latihan, tetesan keringat, dan yang paling krusial adanya perhatian serta sistem pembinaan yang konsisten sejak usia dini.
Tanpa adanya apresiasi terhadap prestasi-prestasi kecil di tingkat daerah atau mahasiswa, bakat-bakat terbaik kita akan layu sebelum berkembang. Perhatian bukan sekadar bonus, melainkan bahan bakar utama yang meyakinkan seorang atlet bahwa jalur yang mereka pilih memiliki masa depan.
Refleksi penting ini tergambar nyata dalam perjuangan pasangan ganda putra bulutangkis UIN Alauddin Makassar, Din Alief Alwan Aldin dan Muhammad Tegar Ahmad, di ajang Pekan Olahraga, Riset, dan Orientasi Seni Indonesia Timur (POROS INTIM) 2026 yang berlangsung di kampus UIN Dato Karama, Palu.
Menguji Mental di Lapangan Palu, Langkah Demi Langkah Alwan-Tegar
Perjalanan Alwan dan Tegar di turnamen ini adalah miniatur dari kerja keras sebuah pembinaan. Di lapangan, mereka tidak hanya bertanding melawan musuh, tetapi juga menguji konsistensi dan mentalitas bertanding yang telah dipupuk sejak mereka pertama kali memegang raket di masa kecil.
Dominasi Babak Awal, Ketangguhan taktik dan fisik membawa mereka menumbangkan perlawanan sengit dari tim STAIN Majene dan IAIN Manado di babak penyisihan hingga semifinal.
Pertempuran Final yang Sengit: Di laga puncak, mereka harus mengakui keunggulan tipis dari pasangan tangguh STAIN Parepare. Pertandingan berjalan ketat, menyisakan drama poin-poin kritis yang menegangkan.
Hasil Akhir, Alwan dan Tegar sukses membawa pulang predikat Runner-Up (Juara II) ke tanah Makassar.
Mengapa Podium Juara II adalah Fondasi Menuju Atlet Profesional?
Menjadi juara kedua sering kali disalahartikan sebagai “kekalahan di akhir”. Namun, dalam cetak biru pembinaan atlet profesional, posisi runner-up di tingkat regional seperti POROS INTIM adalah batu pijakan yang sangat bernilai tinggi.
1. Pembinaan Usia Dini dan Jam Terbang
Seorang atlet profesional membutuhkan transisi yang matang dari kompetisi kelompok umur ke tingkat yang lebih tinggi. Kejuaraan antar-mahasiswa seperti ini berfungsi sebagai wadah transisi tersebut. Tanpa pembinaan fundamental yang kuat sejak usia dini, atlet akan kesulitan mengimbangi tekanan mental di partai final yang menuntut ketenangan tingkat tinggi.
2. Prestasi sebagai “Alarm” bagi Stakeholder
Prestasi yang diraih Alwan dan Tegar adalah sinyal kuat bagi pihak kampus, persatuan bulutangkis, hingga pemerintah daerah. Prestasi ini adalah bukti bahwa ada potensi besar yang siap diorbitkan ke level profesional jika diberi fasilitas, pendanaan, dan program latihan yang lebih terstruktur. Atlet berbakat membutuhkan perhatian nyata agar mereka tidak kehilangan motivasi di tengah jalan.
3. Mentalitas “Cambuk” untuk Level Nasional
Bagi seorang calon atlet profesional, kekalahan tipis di final bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bahan evaluasi. Alwan, yang juga menjabat sebagai Ketua UKM Olahraga UIN Alauddin Makassar, menunjukkan kedewasaan mental ini secara luar biasa.
”Alhamdulillah, kami bisa finis sebagai juara dua. Hasil ini tentu tidak membuat kami patah arang, melainkan menjadi cambuk dan penyemangat luar biasa untuk mempersiapkan diri menghadapi turnamen berskala nasional di masa-masa mendatang,” ujar Alwan optimis.
Menatap Masa Depan
Prestasi Alwan dan Tegar di Palu adalah pengingat penting bagi kita semua: atlet hebat tidak diciptakan di atas podium juara, melainkan dirawat sejak mereka memulai langkah pertamanya di lapangan berlumpur.
Jika kita ingin melihat lebih banyak atlet Indonesia bersinar di panggung dunia, dukungan dan perhatian penuh harus diberikan pada pencapaian-pencapaian di tingkat seperti POROS INTIM ini. Selamat untuk Alwan dan Tegar, langkah menuju panggung profesional kini kian terbuka lebar! (duppa)









