NETSULSEL | Selayar, Di bawah langit abu-abu yang menggelayut di atas perairan barat Pulau Polassi, harapan yang sempat meredup kini kembali berkobar. Hari kelima operasi pencarian dan pertolongan (SAR) korban tenggelamnya KM Nurul Salsa menjadi saksi bisu sebuah mukjizat. Di tengah deburan ombak yang tak kenal ampun, dua nyawa berhasil direnggut kembali dari dekapan maut.
Nurmiati (46) dan Jasmal (24), dua jiwa yang sempat terombang-ambing dalam ketidakpastian, ditemukan terdampar di pesisir sunyi Pulau Balaloho oleh awak KM Bari Baria 05. Tubuh mereka yang didera keletihan ekstrem dan dinginnya malam di tengah laut, menjadi bukti betapa kerasnya perjuangan mereka untuk bertahan hidup. Air mata haru pecah seketika saat KRI Marlin 877 merapat, membentangkan tangan-tangan kekar para prajurit untuk mengevakuasi keduanya menuju Pelabuhan Benteng, Kepulauan Selayar, demi mendapatkan pertolongan medis yang mendesak.
Penemuan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari keringat, doa, dan kegigihan tanpa batas dari seluruh unsur SAR gabungan. Mereka menolak menyerah pada takdir. “Alhamdulillah, pada hari kelima ini mukjizat itu nyata. Dua korban berhasil kami temukan dalam keadaan selamat,” ujar Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Basarnas Makassar, Andi Sultan, dengan nada suara yang bergetar menahan haru. Namun, tugas belum usai. Sultan menegaskan bahwa setiap jengkal laut akan terus disisir demi membawa pulang mereka yang masih tertinggal.
Kini, catatan manifes mencatat 59 jiwa telah kembali ke pelukan keluarga dalam keadaan selamat, sementara satu raga harus pulang dalam keabadian. Di balik rasa syukur atas selamatnya Nurmiati dan Jasmal, ada pilu yang masih menggelayut tebal: 18 jiwa lainnya masih misteri, hilang di telan luasnya samudra. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan tentang ayah, ibu, anak, dan saudara yang dinanti kepulangannya dengan cemas di rumah.
Perjuangan di hari kelima ini laksana medan laga yang mempertaruhkan nyawa. Area pencarian seluas 1.305 nautical mile persegi (nm²) digempur habis-habisan oleh armada tangguh seperti KN SAR Puntadewa 250, KN SAR Pacitan 102, KRI Marlin 877, hingga KRI Hiu 634. Bergandengan tangan dengan TNI, Polri, BPBD, Syahbandar, dan para nelayan setempat, mereka menerjang gulungan gelombang setinggi 2 hingga 3 meter. Di bawah ancaman cuaca ekstrem, para kemudi kapal dan penyelamat terus melaju, didorong oleh satu keyakinan kemanusiaan: membawa pulang seluruh korban, apa pun kondisinya.












