NETSULSEL | Boyolali, Dunia TA, seorang gadis muda berusia 19 tahun di Boyolali, mendadak runtuh pada sebuah siang di akhir Maret 2026. Di tengah rutinitasnya bekerja di sebuah toko roti, sebuah pesan singkat masuk membelah ketenangannya sekitar pukul 12 siang. Bukan instruksi kerja yang ia terima dari sang pemilik toko—yang kebetulan adalah seorang pejabat publik, seorang Camat—melainkan dua rekaman video tak senonoh dari sang atasan.
”Saya buka videonya itu, videonya beliau sendiri, video porno,” ungkap TA dengan nada yang masih menyiratkan keterkejutan yang mendalam. Video tersebut memperlihatkan sang camat dalam kondisi tanpa busana.
Bagi seorang remaja, momen itu adalah hantaman psikologis yang berat. Ada rasa takut, kaget, dan ruang batinnya seketika merasa terinvasi. Namun, dengan kepolosan dan prasangka baiknya, TA sempat memilih menunggu, berharap ada pesan susulan yang menyatakan bahwa itu hanyalah sebuah kekeliruan.
”Saya nunggu dia konfirmasi, apa karena salah kirim atau gimana. Lha itu enggak chat sama sekali sampai malam. Nah, malamnya saya blokir nomornya,” kenang TA. Keheningan sang camat hingga malam hari menegaskan satu hal: tindakan tersebut bukanlah ketidaksengajaan.
Ketika Penguasa Membalikkan Keadaan
Penderitaan TA nyatanya baru saja dimulai. Didampingi keluarganya yang terluka, TA mencari keadilan dengan melaporkan kejadian ini ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali. Namun, alih-alih mendapatkan perlindungan dan pemulihan, TA justru berhadapan dengan dinding tebal relasi kuasa. Sebelum mediasi bahkan sempat dimulai, intimidasi justru datang bertubi-tubi.
”Sebelum mediasi beliau malah ngancam. Saya suruh minta maaf ke beliau. Katanya saya jelek-jelekin masalah gaji,” tutur TA, mengungkap bagaimana posisinya sebagai korban sengaja dipojokkan dan dialihkan jalurnya.
Sang camat tidak mendatangi TA secara jantan untuk meminta maaf, melainkan menggunakan pengaruh jabatannya untuk menekan TA melalui struktur desa.
”Bukannya menemui secara baik-baik malah ke lurah saya,” tambah TA dengan nada kecewa.
Tekanan yang berlapis ini membuat TA merasa semakin terpojok dan terhina. Harkat dan martabatnya sebagai seorang perempuan muda seolah direndahkan begitu saja oleh seseorang yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat.
”Ya takut. Orang yang saya kenal baik, tiba-tiba dikirimi video itu ya kaget. Merasa dilecehkan banget,” keluhnya, menggambarkan betapa berat beban mental yang harus dipikulnya sendirian.
Ironi Birokrasi dan Lentera Keberanian TA
Ironi kasus ini kian terasa ketika institusi tempat sang camat bernaung mulai bersuara. Sekretaris Daerah Kabupaten Boyolali, M. Syawaludin, mengonfirmasi bahwa Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) telah memanggil sang camat untuk dimintai klarifikasi. Namun, kesimpulan sementara bahwa “tidak ditemukan unsur kekerasan seksual secara fisik” dan narasi “salah kirim” seolah menjadi tamparan fungsional yang mengecilkan luka digital yang dialami TA.
Namun, di sinilah kisah TA bermutasi dari sebuah tragedi menjadi sebuah refleksi yang menginspirasi.
Di usianya yang baru 19 tahun, menghadapi seorang pejabat yang memiliki kuasa dan jaringan, TA memilih untuk tidak tunduk pada intimidasi. Ketika ia diminta meminta maaf atas kesalahan yang tidak ia perbuat, ia menolak untuk bungkam. Kutipan-kutipan suaranya adalah bukti nyata dari sebuah keberanian: bahwa harga diri seorang perempuan tidak bisa diukur dengan jabatan atau diancam dengan kekuasaan.
TA telah menyalakan lenteranya di tengah kegelapan birokrasi yang dingin. Melalui suaranya, ia mengingatkan kita semua bahwa pelecehan berbasis elektronik tetaplah sebuah luka nyata yang merusak jiwa. Kini, tugas kita adalah memastikan keberanian TA tidak berjalan sendirian, dan memastikan hukum hadir untuk melindungi mereka yang berani bersuara. (ita)





