
NETSULSEL | Makassar, Riuh tepuk tangan menggema di dalam Baruga AP Pettarani. Di antara 2.189 pasang mata yang berkaca-kaca pada prosesi Wisuda Universitas Hasanuddin (Unhas) Periode Juni 2026, ada tujuh sosok yang berdiri dengan dada berdegup lebih kencang. Bagi mereka, toga yang membalut tubuh hari itu bukan sekadar tanda lulus kuliah. Itu adalah sebuah prasasti kemenangan atas jarak ribuan kilometer, sekat bahasa, hingga rindu mendalam pada kampung halaman yang barangkali sedang tidak baik-baik saja.
Mereka adalah tujuh mahasiswa internasional yang datang dari belahan dunia yang kerap didera konflik, keterbatasan, maupun tantangan geografis: Afghanistan, Madagaskar, Yordania, Irak, Pakistan, dan Gambia. Di Makassar, di jantung Indonesia Timur, mereka menempa mimpi dan hari ini, mereka resmi menggenapinya.

Dari Garis Depan Dunia Menuju Tamalanrea
Bayangkan menjadi Shahabuddin Esmati. Berasal dari Afghanistan—negeri yang tak pernah mudah bagi para pencari ilmu—ia harus melintasi benua untuk mendalami Administrasi Publik di FISIP Unhas. Atau Ali Hussein Saeed, pemuda Irak yang masa kecilnya mungkin karib dengan dentum konflik, namun memilih merajut masa depan di Fakultas Kedokteran Gigi Unhas demi membawa pulang senyum yang sehat bagi bangsanya kelak.
Perjuangan serupa juga dihidupkan oleh Hangivola Emyblonde Ratna dari Madagaskar yang mendalami Ilmu Komunikasi, dua sejoli asal Yordania, Bashar Sultan Abdallah Almadi (Kedokteran Gigi) dan Rahaf Omar Mustafa Almatarneh (Pendidikan Dokter), Kanchul Louis Mendy dari Gambia yang mendalami Ilmu Hukum, serta Nusrat Din, pemuda Pakistan yang menaklukkan rumitnya Teknik Mesin.
Bagi mereka, kuliah di luar negeri bukanlah tentang perjalanan wisata yang mewah. Ini adalah perjuangan beradaptasi dengan dialek lokal Makassar yang tegas, melawan sengatan cuaca yang kadang asing, hingga belajar menelan rasa rindu pada pelukan ibu di tanah seberang. Namun, di bawah rimbunnya pohon-pohon Tamalanrea, mereka membuktikan bahwa tekad tidak mengenal batas wilayah.
Membawa Dunia ke Makassar, Membawa Unhas ke Panggung Global
Kehadiran ketujuh wisudawan asing ini bukan sekadar cerita haru individu, melainkan bukti nyata bahwa Unhas kian kokoh mengepakkan sayapnya sebagai kampus kelas dunia (world-class university). Saat ini, Unhas telah menjadi rumah bagi 635 mahasiswa internasional—sebuah angka yang menegaskan bahwa pesona akademik kampus merah ini telah melintasi samudra.
Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) Unhas, Andi Masyitha Irwan, S.Kep., Ns., Ph.D., mengungkapkan bahwa kehadiran mereka memberikan warna tersendiri bagi dinamika kampus.
”Kami ingin membawa dunia ke Unhas. Interaksi yang terbangun di lingkungan kampus turut memperkaya pengalaman akademik mahasiswa dan dosen melalui pertukaran perspektif, budaya, serta cara pandang dalam menyelesaikan berbagai persoalan global,” jelas Masyitha penuh optimisme.
Melalui berbagai program seperti International Cultural Program (ICP) hingga kemudahan pengurusan visa dan adaptasi, Unhas berkomitmen agar setiap mahasiswa asing tidak hanya pulang membawa ijazah, tetapi juga membawa kenangan manis tentang keramahan Indonesia. “Kesan positif yang mereka peroleh adalah promosi terbaik bagi dunia,” tambahnya.
Refleksi Perjuangan: Arti Sebuah Rumah Kedua
Wisuda yang digelar dalam dua sesi pada Senin (22/06) dan Selasa (23/06) itu akhirnya usai. Namun, jejak langkah ketujuh pengembara ilmu ini akan tetap abadi di Unhas.
Kisah mereka menitipkan sebuah pesan perjuangan yang mendalam bagi kita semua: bahwa pendidikan adalah bahasa universal yang mampu meruntuhkan tembok perbedaan. Di saat dunia luar kerap dipisahkan oleh sekat geopolitik dan ego sektoral, di Unhas mereka justru duduk berdampingan, saling bertukar senyum, dan berjuang demi satu tujuan: kemanusiaan yang lebih baik melalui ilmu pengetahuan.
Hari ini, mereka bersiap mengemas koper, bersiap kembali ke negara masing-masing. Mereka pulang bukan lagi sebagai orang asing, melainkan sebagai duta-duta Unhas yang siap menyalakan lilin perubahan di Afghanistan, Gambia, hingga Irak. Dari Makassar untuk dunia, selamat berjuang para penyintas ilmu!










