Satu Warna di Luar, Beragam di Dalam: Wamen Viva Yoga Sebut Distribusi Kader NU dan HMI adalah Kekayaan Bangsa

NETSULSEL | Depok. Sebuah momentum akademis yang inspiratif tersaji dalam Sidang Terbuka Program Doktor Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (6/7/2026). Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, hadir langsung untuk memberikan dukungan moral kepada sahabat seperjuangannya, Luluk Nur Hamidah. Politisi perempuan asal Jombang tersebut sukses mempertahankan disertasinya yang mendalam mengenai dinamika arena politik Nahdlatul Ulama (NU) di Solo Raya menuju masa depan tahun 2045.

​Sidang yang berlangsung khidmat di Ruang Auditorium Juwono Sudarsono ini menjadi panggung pembuktian rekam jejak Luluk sebagai mantan aktivis PMII yang kini merengkuh gelar doktor. Kehadiran Viva Yoga, yang tumbuh dari rahim organisasi HMI, menjadi simbol indahnya rajutan ukhuwah antar-mantan aktivis mahasiswa. Meski berbeda bendera masa lalu, ruang akademis menyatukan mereka dalam visi yang sama: berkontribusi bagi pemikiran bangsa.

​Diskusi ilmiah ini memantik perspektif baru yang menyegarkan dunia perpolitikan nasional. Salah satu momen menarik adalah ketika salah satu penguji, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, memaparkan definisi kontemporer mengenai ‘santri’ dan ‘abangan’ yang melampaui sekat teori klasik Clifford Geertz. Debat intelektual kelas tinggi ini menegaskan bahwa dinamika keumatan di Indonesia terus bertransformasi ke arah yang lebih inklusif dan matang.

​Satu hal yang paling memikat perhatian Viva Yoga adalah metafora “buah semangka” yang diangkat dalam disertasi Luluk untuk menggambarkan realitas politik warga NU. Kulit luarnya mungkin berwarna hijau khas simbol keislaman, namun ketika dibelah, isinya menampilkan keragaman warna yang luar biasa. Metafora ini membuktikan secara ilmiah bahwa warga NU hari ini memiliki kedewasaan politik untuk terdistribusi secara harmonis di berbagai partai politik tanpa kehilangan jati dirinya.

​Menariknya, Viva Yoga melihat fenomena “semangka” ini memiliki kesamaan emosional dengan pola distribusi kader HMI. Karakteristik organisasi besar Islam di Indonesia saat ini telah berevolusi menjadi wadah yang inklusif; anggotanya menyebar ke seluruh spektrum politik demi mengabdi pada negara. Realitas ini menunjukkan bahwa organisasi-organisasi tersebut telah berhasil menjalankan peran sucinya, tidak sekadar mencetak kader kelompok, melainkan mencetak kader umat dan kader bangsa.

​Karya doktoral Luluk Nur Hamidah ini tidak hanya sekadar pelengkap pustaka akademik, tetapi menjadi kompas literasi baru bagi politik keumatan dan kebangsaan. Dari sidang ini, Indonesia mendapatkan pesan kuat: bahwa perbedaan pilihan politik di dalam tangki demokrasi bukanlah pemecah belah, melainkan sebuah kekayaan warna yang memperkokoh fondasi NKRI menuju masa depan.