NETSULSEL | Maros, Pepatah mengatakan, “Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga.” Tapi bagi pria berinisial A (32), pepatah yang tepat mungkin: “Secerdik-cerdiknya menyelundupkan Ballo, akhirnya bakal ngopi di kantor polisi juga.”
Niat hati ingin menjadi pahlawan bagi para pemburu kehangatan malam di Kecamatan Turikale, langkah pria malang ini harus kandas di tangan Unit Jatanras Polres Maros pada Kamis (9/7). Bukan membawa sembako atau takjil sisa Ramadan, si abang ini kedapatan mengomandoi sepeda motornya yang sarat muatan: 100 liter minuman keras tradisional jenis Ballo!
Kronologi, Jeriken Berisi Cairan Pembawa Sial
Penangkapan ini bermula dari radar intelijen warga yang tampaknya sudah lelah melihat bakat-bakat terpendam pemuda lokal yang mendadak jadi petarung UFC setelah menenggak Ballo. Menerima laporan adanya “pasokan kebahagiaan semu” dalam jumlah jumbo, Tim Jatanras langsung tancap gas melakukan penghadangan.
Saat digeledah, polisi menemukan pemandangan yang bikin geleng-geleng kepala. Berliter-liter Ballo yang dikemas rapi di dalam jeriken, berjejer manja di atas motor pelaku, siap meluncur ke para pengecer.
”Kami berhasil mengamankan terduga pelaku beserta barang bukti berupa 100 liter miras jenis Ballo. Dari hasil pemeriksaan awal, pelaku mengaku barang ini dibawa dari Kecamatan Bantimurung dan rencananya akan dijual kembali ke pengecer-pengecer yang ada di Kecamatan Turikale,” ujar Kasi Humas Polres Maros, AKP Ahmad, S.Sos.M.H, dengan nada tegas tanpa senyum canda.
Tragedi di Balik Miras Recehan
Mari kita bedah sedikit sosiologi warung kopi. Ballo ini memang tergolong miras recehan alias ramah di kantong, tapi efek sampingnya sama sekali tidak murah. Minuman ini punya daya magis yang luar biasa:
Mengubah karakter: Dari pria pemalu, instan berubah menjadi preman kelas berat yang merasa punya sembilan nyawa.
Pemicu kreativitas negatif: Mulai dari jagoan neon di jalanan, tawuran antar-kelompok, penganiayaan, hingga atraksi akrobatik tak sengaja (baca: kecelakaan lalu lintas).
Harganya boleh murah, tapi dampak yang ditimbulkan sering kali harus dibayar mahal dengan air mata keluarga, atau bahkan nyawa.
Sadar Sebelum Terkapar
Saat ini, si abang kurir beserta ratusan liter Ballo-nya sudah resmi “check-in” di Mapolres Maros untuk pemeriksaan lebih lanjut. Jeriken-jeriken itu kini menyendiri di sudut ruangan, gagal menemui takdirnya untuk merusak malam minggu orang lain.
Pesan moralnya:
Ballo mungkin terasa manis di lidah dan bikin hangat di dada untuk sesaat. Tapi ingat, tidak ada masa depan yang cerah yang dimulai dari dasar gelas miras. Mengoreksi nyali tidak perlu pakai alkohol; kalau memang jagoan, mari berkompetisi lewat prestasi, bukan lewat adu jotos setelah mabuk koma.
Sayangi nyawa, sayangi keluarga. Mari bantu Polres Maros jaga kampung kita tetap aman. Lagian, dingin-dingin begini, daripada minum Ballo yang bikin masuk sel, jauh lebih nikmat minum Sarabba atau kopi susu, bukan? (ita/syamsul)











