NETSULSEL | Kendari, Apa yang lebih mengerikan daripada menyadari bahwa orang yang paling kamu percayai adalah monster yang siap menghancurkan hidupmu? Bagi AN, seorang mahasiswi kesehatan berusia 18 tahun di Kendari, dongeng romantis selama tiga tahun bersama kekasihnya, MA (20), berubah menjadi mimpi buruk yang nyaris merenggut nyawanya. Cinta yang awalnya manis, perlahan membusuk menjadi obsesi buta yang gelap dan penuh darah.
Semua bermula pada Minggu (28/6/2026) sore. Tempat kerja AN yang tenang mendadak mencekam saat MA datang dengan tatapan mata penuh amarah. Lelaki itu tidak terima diputuskan. Di bawah intimidasi dan kepungan rasa takut yang luar biasa, AN dipaksa naik ke motor pelaku. Ia dibawa paksa merayap naik menuju sebuah rumah terisolasi di kawasan sunyi, Gunung Jati, Kelurahan Jati Mekar.
Di sanalah, neraka dunia itu dimulai.
Disiksa, Diandalkan, dan Diancam Cacat
Begitu pintu kamar dikunci dari luar, rumah itu berubah menjadi ruang jagal psikologis bagi AN. Selama lima jam yang terasa seperti keabadian, korban disekap dalam kegelapan. MA yang telah dirasuki cemburu buta memaksa AN untuk melayaninya. Ketika ditolak, sisi iblis pelaku keluar.
AN dipukuli bertubi-tubi pada bagian kepala dan telinganya hingga membiru. Tidak berhenti di situ, tangannya robek terkena sabetan gunting, sementara paha dan betisnya dihantam kayu jerapah.
”Dia memegang ‘kartu’ saya. Video saya di kolam renang dijadikan senjata untuk mengancam,” bisik AN dengan suara bergetar hebat. “Dia bahkan berbisik tidak akan melepaskan saya sampai saya cacat.”
Ponsel AN disita, dunianya diputus. Namun, di sela-sela kepasrahan antara hidup dan mati, AN melihat celah saat sang predator lengah. Dengan sisa baterai yang sekarat, jemarinya mengetik sebuah kode rahasia yang dikirimkan kepada kakaknya:
”Saya di sini, jangan balas chat-ku.”
Sebuah pesan singkat, sunyi, namun merupakan jeritan minta tolong terakhir yang krusial.
Penyelamatan Menegangkan di Keheningan Malam
Pesan itu menjadi jangkar keselamatan. Kakak korban yang curiga langsung menghubungi polisi. Sinyal ponsel dilacak, dan aparat kepolisian merangsek naik menembus kegelapan Gunung Jati.
Saat polisi tiba, pemandangan di teras rumah tersebut sungguh gila: MA tengah tertidur pulas di kursi teras, sementara beberapa meter darinya, AN terbaring di lantai dalam kondisi syok berat, tak berdaya menatap langit-langit malam. Begitu mendengar teriakan polisi, AN langsung dievakuasi turun gunung dalam kondisi tubuh yang bergetar hebat akibat trauma mendalam.
Namun, kegilaan belum usai. Keluarga pelaku justru sempat mengancam ibu korban menggunakan pisau dan senjata api. Bahkan, MA secara arogan melakukan penyerangan terhadap petugas kepolisian yang mengevakuasi korban sebelum akhirnya melarikan diri ke dalam kegelapan malam.
Perburuan Sang Monster
Hingga saat ini, AN masih hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Tidurnya tak pernah nyenyak, makan pun terasa hambar, dihantui ketakutan bahwa sang mantan kekasih akan mendobrak pintunya sewaktu-waktu.
Kapolresta Kendari, Kombes Edwin L Sengka, menegaskan bahwa MA kini diburu atas kejahatan ganda: pemerkosaan berat (Pasal 473 KUHP Baru dengan ancaman 12 tahun penjara) dan penyerangan terhadap perwira negara.
”Dia tidak akan bisa bersembunyi selamanya,” tegas Kombes Edwin.
Pesan Moral, Ketika Cinta Menjadi Penjara
Kisah memilukan ini menjadi alarm keras bagi kita semua bahwa cinta tidak pernah berjalan beriringan dengan rasa takut, kepemilikan mutlak, apalagi kekerasan.
Cinta buta sering kali mengaburkan batas antara kasih sayang dan obsesi berbahaya. Ketika seseorang mulai mengontrol media sosialmu, melarangmu bergaul, dan menggunakan kekerasan fisik dengan dalih “cemburu karena cinta”, itu bukan lagi hubungan asmara—itu adalah sebuah penyanderaan. Kenali tanda-tanda toxic relationship sejak dini, karena cinta yang tulus menyembuhkan, bukan menghancurkan atau mengancam nyawa. (ita)







