NETSULSEL | Selayar, Di tengah pekatnya malam dan deru ombak yang menghantam perairan barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, secercah harapan kemanusiaan tetap menyala. Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Makassar memimpin sebuah operasi penyelamatan berskala besar menyusul kecelakaan yang menimpa KM Nurul Salsa. Kapal yang mengangkut puluhan jiwa tersebut mengalami mati mesin di tengah laut hingga dilaporkan tenggelam pada posisi sekitar 43 nautical mile dari Pelabuhan Benteng Selayar, mengubah pelayaran rutin dari Pulau Jampea menjadi sebuah ujian ketangguhan mental dan fisik bagi para penolong.
Begitu kabar darurat memecah keheningan, detak waktu seakan berjalan lebih cepat bagi para rescuer. Di bawah koordinasi yang presisi, Tim Rescue Pos SAR Selayar, Kantor Basarnas Makassar, TNI AL melalui KRI Marlin 877, serta berbagai unsur potensi SAR langsung bergerak menerjang gelombang. Mereka bertaruh dengan waktu dan cuaca demi menyelamatkan setiap nyawa yang terombang-ambing di lautan lepas. Kepala Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, menegaskan bahwa panggilan ini adalah misi suci yang menuntut kesiapsiagaan penuh tanpa mengenal rasa lelah.
“Begitu menerima informasi terkait KM Nurul Salsa yang mengalami mati mesin di perairan Selayar, kami segera menggerakkan seluruh unsur SAR untuk melakukan pencarian dan evakuasi terhadap seluruh penumpang serta awak kapal,” ujar Arif dengan nada tegas penuh empati.
Buah dari kegigihan dan sinergi yang luar biasa itu mulai tampak saat fajar menyingsing. Dengan dedikasi tinggi, awak KM Harapan Kita bersama kapal nelayan setempat bertindak cepat sebagai perpanjangan tangan kemanusiaan di garis depan. Sebanyak 41 jiwa berhasil dievakuasi oleh KM Harapan Kita pada titik 18 nautical mile dari lokasi kejadian, sementara 6 korban lainnya diselamatkan oleh nelayan sekitar menuju Pulau Polassi. Dari ketidakpastian samudra, total 46 orang berhasil dipeluk kembali oleh keselamatan, walau duka mendalam tak terbendung atas gugurnya satu korban jiwa dalam musibah ini.
Tantangan semakin berat ketika proses verifikasi data di lapangan mengungkap kenyataan baru yang mengejutkan. Berdasarkan pendataan ulang bersama pihak keluarga dan otoritas terkait, manifest kapal yang semula dilaporkan berisi 50 orang ternyata membengkak menjadi 70 orang. Hal ini berarti masih ada 23 jiwa lagi yang kini menjadi fokus utama pencarian. Bukannya surut, fakta ini justru membakar semangat tim SAR gabungan untuk memperluas jangkauan pencarian berdasarkan perhitungan matang Search and Rescue Planning (Sarmap).
“Data awal yang kami terima menyebutkan jumlah penumpang sebanyak 50 orang. Namun setelah dilakukan verifikasi ulang bersama pihak terkait, jumlah keseluruhan orang di kapal mencapai 70 orang. Saat ini tim SAR gabungan masih melakukan pencarian intensif terhadap korban yang belum ditemukan,” jelas Arif menjabarkan situasi terkini.
Hingga detik ini, jalinan kemanusiaan yang melibatkan BPBD Selayar, Syahbandar, SROP, Polairud, hingga masyarakat nelayan terus bahu-bahu menyisir koordinat demi koordinat. Setiap embusan angin dan riak ombak dihadapi dengan keteguhan hati demi mengembalikan para korban ke pelukan keluarga mereka. Operasi kemanusiaan ini bukan sekadar tugas kedinasan, melainkan sebuah ikhtiar mulia untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun jiwa yang ditinggalkan sendirian di tengah luasnya samudra.
“Kami mohon doanya dari seluruh lapisan masyarakat, mudah-mudahan tim SAR gabungan bisa secepatnya menemukan korban yang masih dalam pencarian. Pihak kami terus menunggu dan memverifikasi informasi dari pihak keluarga agar data ini sepenuhnya valid, dan kita semua berharap tidak ada lagi laporan tambahan mengenai anggota keluarga yang berada di dalam kapal tersebut,” tutup Arif penuh harap. (syam)











