
NETSULSEL | Sinjai, Suasana senyap di waktu dini hari berubah menjadi kepanikan masal bagi warga Kabupaten Sinjai. Sejak Minggu (19/7/2026) sekitar pukul 03.00 WITA dinihari. Banjir besar kembali mengepung wilayah perkotaan, melumpuhkan total aktivitas masyarakat, dan merendam ratusan pemukiman akibat curah hujan berintensitas tinggi yang memicu luapan air.
Banjir kali ini disebut-sebut sebagai salah satu yang terparah sepanjang tahun 2026. Kepedihan warga kian lengkap karena bencana ini bukan lagi hal baru, melainkan “langganan” yang terus berulang tanpa solusi konkret.

Rujab Bupati Berubah Jadi ‘Danau’
Dampak terparah salah satunya terlihat jelas di Jalan Persatuan Raya, tepatnya di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Sinjai. Halaman luas yang biasanya menjadi simbol pusat pemerintahan daerah itu kini tenggelam dan berubah menyerupai danau akibat genangan air yang cukup tinggi.
Tak hanya merendam fasilitas publik, air bah berwarna cokelat pekat juga melumpuhkan urat nadi perekonomian kota. Sejumlah ruas jalan utama terisolasi dan tidak dapat dilalui kendaraan. Jalur-jalur protokol seperti Jalan Tondong, Jalan Abdul Latief, Jalan Manimpahoi, Jalan Bulo-bulo Timur, Jalan Baso Kalaka, Jalan Dr. Hamka, hingga Jalan Jenderal Sudirman kini menyerupai sungai mati.
Bahkan, tempat ibadah pun tak luput dari kepungan air. Halaman Masjid Agung Nujumul Ittihad Sinjai tergenang cukup dalam, memaksa para jemaah harus bersusah payah menerjang air kotor demi bisa melaksanakan salat.
Ironi Nobar Piala Dunia di Atas Meja
Di tengah situasi yang mencekam dan merugikan tersebut, terselip potret ironis sekaligus potret kepasrahan warga. Di salah satu warung kopi (warkop) di Jalan Baso Kalaka—yang hanya berjarak sepelemparan batu dari Rujab Bupati—puluhan warga memilih bertahan di tengah kepungan banjir demi menyaksikan laga perebutan juara ketiga Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Inggris.
Pemandangan memprihatinkan terlihat saat penonton terpaksa menaikkan kaki mereka ke atas kursi. Sebagian lainnya bahkan harus bertengger di atas meja warung agar terhindar dari dinginnya genangan air yang masuk ke dalam ruangan. Sorak-sorai penonton sesekali memecah keheningan malam yang basah, menjadi pelarian sesaat dari kepedihan banjir yang merendam kota mereka.
Wawan, seorang pendukung fanatik timnas Prancis yang ditemui di lokasi, mengungkapkan rasa frustrasinya. Menurutnya, banjir di Kota Sinjai sudah berada di tahap yang sangat menjengkelkan karena terus berulang.
”Sudah lumrah di Sinjai banjir kalau hujan deras. Ini sudah sekian kalinya Kota Sinjai banjir sepanjang tahun 2026. Jujur, kami lelah,” keluh Wawan dengan nada pasrah.
Jeritan Warga: Butuh Solusi Nyata, Bukan Janji
Ungkapan Wawan menjadi representasi dari jeritan hati mayoritas masyarakat Sinjai. Banjir bukan lagi dianggap sebagai fenomena alam musiman, melainkan akibat dari buruknya tata kelola infrastruktur kota yang tak kunjung dibenahi.
Setiap kali hujan deras turun, kerugian materiil harus ditanggung oleh warga dan pelaku usaha lokal karena barang dagangan yang rusak dan perputaran ekonomi yang mandek.
Kini, warga hanya bisa berharap pemerintah daerah tidak menutup mata. Mereka mendesak adanya langkah konkret sesegera mungkin, mulai dari pembenahan sistem drainase yang buruk, normalisasi saluran air, hingga penanganan komprehensif pada titik-titik yang selama ini menjadi langganan banjir. Warga menagih hak mereka untuk hidup tenang tanpa perlu dihantui rasa cemas setiap kali awan hitam menyelimuti langit Sinjai. (bagoes)










