Hancurkan Dinding Kelas, Mahasiswa Asing UIN Alauddin Selami Budaya Bahari Sulsel di Pulau Kapoposang

International Office UIN Alauddin Makassar membuat terobosan mentereng dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Tidak melulu terpaku di dalam ruang kelas yang kaku, sejumlah mahasiswa internasional diboyong langsung untuk menyelami pengalaman belajar kontekstual di surga bahari Kepulauan Kapoposang, Sulawesi Selatan

NETSULSEL | Gowa, International Office UIN Alauddin Makassar membuat terobosan mentereng dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Tidak melulu terpaku di dalam ruang kelas yang kaku, sejumlah mahasiswa internasional diboyong langsung untuk menyelami pengalaman belajar kontekstual di surga bahari Kepulauan Kapoposang, Sulawesi Selatan. Langkah inovatif ini bertujuan menyatukan pembelajaran bahasa dengan pemahaman mendalam terhadap budaya dan kehidupan masyarakat pesisir secara real.

​Kepala International Office UIN Alauddin Makassar, Dr. Serliah Nur, M.Hum., M.Ed., menegaskan bahwa pendekatan experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman ini jauh lebih adaptif dan adaptif. Mahasiswa asing diajak menjadikan bahasa sebagai jembatan hidup untuk memahami tradisi dan kearifan lokal Indonesia, bukan sekadar menghafal kosakata.

​”Belajar bahasa akan lebih bermakna ketika dipadukan dengan pengalaman nyata. Melalui kegiatan ini, mahasiswa internasional tidak hanya belajar berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia, tetapi juga memahami kehidupan masyarakat serta kekayaan budaya bahari yang menjadi bagian dari identitas Sulawesi Selatan,” ujar Serliah Nur penuh semangat.

​Antusiasme meledak dari para peserta yang menganggap program ini sebagai kesempatan emas mengenal Indonesia ‘lebih dekat’. Pembelajaran di Pulau Kapoposang ini dinilai bukan sekadar kursus bahasa biasa, melainkan sebuah petualangan budaya dan alam yang meninggalkan kesan mendalam selama mereka menempuh studi di kampus peradaban, UIN Alauddin Makassar.

​Kesan mendalam salah satunya disampaikan oleh Saadah Hayyida-O, mahasiswa internasional asal Thailand. Ia mengaku mendapatkan wawasan tak ternilai, mulai dari interaksi dengan masyarakat kepulauan hingga menyaksikan keindahan alam yang terjaga, yang semuanya memperkaya kemampuan berbahasanya secara natural.

​”Saya mengucapkan terima kasih. Melalui kegiatan ini, saya memperoleh pengalaman yang sangat berharga, mulai dari mengenal budaya masyarakat, mempelajari berbagai hal baru, hingga menyaksikan secara langsung keindahan alam. Kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memberikan pengalaman yang sangat berkesan,” ungkap Saadah. (qas)