Menyemai Harapan di Tanah Pa’jukukang. Langkah Sunyi Mahasiswa Unhas Merawat Hak Perempuan dan Anak

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan program kerja individu berupa Sosialisasi "Pojok Informasi Edukatif: Hak, Layanan Publik, dan Sistem Layanan Pelaporan bagi Perempuan dan Anak" di MA Al-Mansyur, Desa Biangloe, Kecamatan Pa'jukukang, Kabupaten Bantaeng,

NETSULSEL | Bantaeng, Pagi di Desa Biangloe, Kecamatan Pa’jukukang, Kabupaten Bantaeng, berhembus lembut menyapa halaman Madrasah Aliyah (MA) Al-Mansyur, Jumat (24/7). Di bawah naungan langit Bantaeng yang teduh, usai peluh senam pagi luruh, riak semangat kemanusiaan bersemi dari langkah-langkah muda para insan akademis. Sebanyak 27 siswa kelas 10 dan 12 berkumpul, tidak sekadar untuk mendengar kuliah formal, melainkan untuk meneguk ilmu tentang keadilan, pelindungan, dan martabat diri melalui sosialisasi “Pojok Informasi Edukatif: Hak, Layanan Publik, dan Sistem Layanan Pelaporan bagi Perempuan dan Anak”.

​Gerakan bernafas kemanusiaan ini digagas oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas). Di tengah riuk perubahan zaman, hadirnya Fitri dan Angel—dua mahasiswi KKN yang mengampu kegiatan ini—menjadi lentera kecil yang menuntun para remaja desa memahami hak-hak dasarnya. Mereka membentangkan wawasan mengenai hak perempuan dan anak dalam pelayanan publik, mengenalkan ekosistem layanan di desa, hingga menyingkap tabir bentuk-bentuk kekerasan yang kerap kali mengintai dalam bisu.

​Bagi mahasiswa Unhas, edukasi ini dirancang bukan sebagai angin lalu yang hilang disapu masa. Ada jejak abadi yang ingin disematkan di dinding-dinding sekolah dalam bentuk tiga poster infografis permanen sebagai rujukan belajar para siswa. Fitri, salah satu inisiator kegiatan, menegaskan bahwa niat mulia ini berorientasi pada keberlanjutan. “Program ini kami rancang bukan hanya untuk memberi informasi sesaat, tetapi juga meninggalkan sesuatu yang bisa terus diakses siswa, yaitu melalui poster Pojok Informasi Edukatif yang akan dipasang permanen di lingkungan sekolah,” tutur Fitri penuh ketulusan.

​Di sisi lain, keberanian untuk bersuara dan melaporkan ketidakadilan menjadi inti dari pembelajaran ini. Memahami bahwa isu kekerasan sering kali terbentur oleh dinding rasa takut dan bahasa hukum yang rumit, materi disampaikan secara lugas dan menyentuh sisi empati siswa. Angel menuturkan betapa pentingnya pemahaman yang mengakar hingga lahir tindakan nyata. “Materi mengenai bentuk-bentuk kekerasan dan alur pelaporan sengaja kami sampaikan dengan bahasa yang sederhana, supaya siswa tidak hanya paham secara teori, tetapi juga tahu langkah konkret jika suatu saat mereka atau temannya membutuhkan bantuan,” jelas Angel.

​Suasana dingin pagi berubah menjadi kehangatan interaktif ketika dialog mengalir tanpa sekat. Tawa riang dan antusiasme menyeruak saat sesi kuis berhadiah menutup ruang edukasi, menyisakan pemahaman baru yang menghujani benak para generasi muda Al-Mansyur. Kini, mahasiswa KKN-T Unhas bersama pihak sekolah tengah berpadu ide menentukan sudut terbaik untuk menancapkan poster-poster edukatif tersebut—sebuah simbol bahwasanya sekolah ini adalah ruang aman bagi tumbuh kembang jiwa-jiwa muda.

​Aksi pengabdian sederhana di pelosok Bantaeng ini menjadi bukti nyata bagaimana integritas akademis menyatu dengan kepekaan sosial. Lebih dari sekadar pemenuhan tugas perkuliahan, jejak langkah para mahasiswa ini turut menyalakan lilin bagi pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)—khususnya poin ke-5 tentang Kesetaraan Gender dan poin ke-16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh. Dari MA Al-Mansyur, sebuah narasi kepedulian telah ditulis: bahwa melindungi perempuan dan anak adalah merawat masa depan peradaban itu sendiri. (baba)