
NETSULSEL | Fak-Fak, Udara pesisir Fakfak Timur menyambut kedatangan akademisi muda Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam Tim 16 Program Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Meneruskan amanat Peraturan Menteri Transmigrasi Nomor 3 Tahun 2026, Unhas bersama sembilan perguruan tinggi papan atas Indonesia menerjunkan 1.476 ilmuwan muda ke 53 kawasan transmigrasi di seantero negeri. Mengusung misi besar pemerintah pusat, langkah kaki Tim 16 berlabuh di Kawasan Transmigrasi Weri–Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, untuk mengurai sekat sosial sekaligus memantik kemandirian ekonomi kawasan.
Di balik bentang alam Fakfak yang memukau, kawasan Weri–Saharey selama ini menyimpan potensi melimpah yang belum terkelola optimal akibat keterbatasan sinergi antara masyarakat adat dan warga transmigran. Melihat tantangan tersebut, Tim 16 datang membawa pendekatan yang humanis melalui program “Penguatan Kohesi Sosial Masyarakat Lokal dan Transmigran melalui Pendampingan Ekonomi Kolaboratif”. Riset dan aksi mereka difokuskan pada penguatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat akar rumput.
“Kepercayaan yang diberikan Kementerian Transmigrasi menunjukkan bahwa pemerintah tidak main-main dalam membangun kawasan transmigrasi,” tegas Ketua Tim 16 Unhas, Dr. Sawedi Muhammad, S.Sos., M.Sc. “Fokus riset kami di Weri–Saharey adalah memperkuat SDM masyarakat lokal dan transmigran agar mereka mampu mengelola dan mengembangkan ekonomi kawasan secara mandiri.”
Menyadari bahwa perubahan tak bisa digagas dari balik meja dingin, para peneliti Unhas memilih membaur langsung dan duduk bersila bersama para tokoh adat, kepala kampung, hingga pemuda setempat. Strategi ini diawali dengan pemetaan sosial partisipatif dan dialog budaya guna mencairkan kekakuan interaksi warga. Puncaknya, program dilanjutkan dengan *pilot action* ekonomi kolaboratif, tempat warga lokal dan transmigran bekerja sama memproduksi komoditas unggulan, membentuk wadah usaha gabungan, hingga menggelar uji pasar komunitas.
“Kami bekerja langsung di tengah masyarakat, berdialog dan mendengarkan,” ungkap Koordinator Lapangan Tim 16 Unhas, Nur Vidiah Rachmadani. “Setiap rekomendasi yang kami hasilkan harus benar-benar relevan dan menyentuh kebutuhan warga di sini, khususnya dalam mendorong penguatan SDM dan peningkatan ekonomi kawasan.”
Pengabdian di belahan timur Indonesia ini diproyeksikan meninggalkan dampak jangka panjang yang nyata, mulai dari terbentuknya kelompok usaha bersama yang aktif hingga lahirnya modal sosial berupa rasa saling percaya antarwarga. “Yang kami kejar bukan hanya laporan riset di atas kertas, tetapi perubahan yang bisa dirasakan masyarakat,” tambah Dr. Sawedi Muhammad. Model pendampingan berbasis komunitas yang ditanam Unhas di tanah Fakfak ini diharapkan menjadi *blueprint* pembangunan yang dapat direplikasi di berbagai kawasan transmigrasi lain di seluruh Nusantara. (qas)











