Ahli Metabolomics Jepang Ungkap Rahasia Merancang Pangan Sehat di Unhas

Pakar bioteknologi dari The University of Osaka, Jepang, Prof. Sastia Prama Putri, Ph.D., membawakan kuliah umum mengenai pemanfaatan metabolomics di Universitas Hasanuddin, Makassar, Senin (10/8). Kegiatan bertajuk “Metabolomics for Health and Wellbeing” ini membahas bagaimana pangan dapat dirancang tidak hanya untuk memenuhi nutrisi, tetapi juga mendukung kesehatan dan kesejahteraan secara holistik.

NETSULSEL | Makassar, Pakar bioteknologi dari The University of Osaka, Jepang, Prof. Sastia Prama Putri, Ph.D., membawakan kuliah umum mengenai pemanfaatan metabolomics di Universitas Hasanuddin, Makassar, Senin (10/8). Kegiatan bertajuk “Metabolomics for Health and Wellbeing” ini membahas bagaimana pangan dapat dirancang tidak hanya untuk memenuhi nutrisi, tetapi juga mendukung kesehatan dan kesejahteraan secara holistik.

​Dalam paparannya, Prof. Sastia menjelaskan bahwa metabolomics memungkinkan peneliti mengukur dan memetakan metabolit secara komprehensif untuk memahami proses metabolisme tubuh setelah makanan dikonsumsi. Pengetahuan mendalam tentang sistem biologis ini menjadi pondasi utama dalam melakukan inovasi dan merancang pangan fungsional baru.

​Selain faktor kesehatan, riset ini menekankan pentingnya menjaga karakteristik sensoris dan cita rasa pangan agar tetap disukai masyarakat. Pendekatan tersebut menjadi solusi di tengah maraknya konsumsi ultra-processed food, dengan cara memodulasi food flavor agar makanan yang sehat tetap memiliki cita rasa yang menarik bagi konsumen.

​Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan pangan fungsional berkat kekayaan biodiversitas tropisnya. Salah satu bentuk inovasi yang dipaparkan adalah pemanfaatan limbah kulit pisang sebagai sumber serat untuk olahan pancake, sekaligus menjadi alternatif bahan pangan bebas gluten yang mendukung kesehatan mikrobiota usus.

​Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof. drg. Muhammad Ruslin, Ph.D., menyambut positif kolaborasi riset internasional ini. Pihaknya berharap kerja sama lintas disiplin ilmu ini tidak hanya berhenti pada tahapan penelitian, tetapi juga berlanjut hingga proses hilirisasi produk yang berdampak luas bagi masyarakat. (qas)