NETSULSEL | Makasssar, Pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas) tahun 2026 mendadak menjadi sorotan publik. Akun Instagram media kritis mahasiswa, @unhas.distopia, menerbitkan sorotan tajam terkait dugaan militerisasi dan intimidasi terhadap mahasiswa baru dalam kegiatan yang berlangsung di GOR Unhas tersebut.
Berdasarkan narasi yang dihimpun dari sumber tersebut, insiden bermula saat pihak Rektorat Unhas mendatangkan Panglima Kodam (Pangdam) XIV/Hasanuddin beserta jajaran aparat TNI ke lokasi acara. Kehadiran aparat militer tersebut diklaim terjadi tanpa adanya pemberitahuan maupun koordinasi terlebih dahulu dengan panitia pelaksana dari unsur mahasiswa.

Dugaan Intimidasi dan Mahasiswa Pingsan
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 06.00 hingga 18.00 WITA tersebut dinilai sangat menguras fisik dan mental para peserta. Selama rentang waktu sekitar 12 jam tersebut, mahasiswa baru disebut dilarang meninggalkan lokasi acara.
Situasi memanas ketika beberapa mahasiswa baru yang mencoba keluar dari GOR mendapat respons keras dari aparat penjaga. Dugaan intimidasi verbal berupa bentakan dilaporkan terjadi di lokasi, salah satunya dengan lontaran kalimat tegas: “Coba konsentrasi ke sini… Lihat saya sini!”
Kombinasi antara durasi kegiatan yang panjang, tekanan atmosferik di dalam gedung, serta perlakuan yang dianggap represif menyebabkan sejumlah mahasiswa baru mengalami kelumpuhan fisik dan emosional. Beberapa peserta dilaporkan mengalami kelelahan hebat, histeris/menangis, hingga pingsan di tempat.
Kritik Militerisasi dan Tuntutan Kepada Rektorat
Sorotan yang dilayangkan oleh @unhas.distopia menegaskan bahwa hadirnya pendekatannya yang militeristik dalam orientasi akademik merupakan bentuk pencederaan terhadap kebebasan dan keharmonisan ruang kampus. Pelibatan aparat militer secara berlebihan dalam agenda kemahasiswaan dinilai sebagai bentuk intervensi yang merusak nilai-nilai edukatif.
Atas peristiwa tersebut, muncul gelombang tuntutan yang mendesak pihak pimpinan kampus dan aparat terkait untuk bertanggung jawab, di antaranya:
Permintaan Maaf Terbuka: Mendesak Rektor Unhas dan Pimpinan Kodam XIV/Hasanuddin untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh mahasiswa baru dan panitia PKKMB FIB 2026 atas insiden dan jatuhnya korban pingsan.
Penghentian Militerisasi Kampus: Menuntut penghentian total segala bentuk pendekatan militeristik, intimidasi, dan pelibatan aparat keamanan luar dalam ruang akademik maupun kegiatan kemahasiswaan di lingkungan Universitas Hasanuddin.
Hingga narasi ini beredar luas di media sosial, pihak rektorat Unhas maupun Kodam XIV/Hasanuddin belum mengeluarkan pernyataan resmi balasan terkait tuduhan dan tuntutan yang dilayangkan oleh organisasi/elemen mahasiswa tersebut. (ita)















