
NETSULSEL | Fakfak, Keterbatasan cuaca tak lagi menjadi penghalang bagi para petani pala di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Harapan baru berembus dari dunia perguruan tinggi saat Tim 15 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan terobosan teknologi tepat guna yang mengubah wajah pascapanen komoditas kebanggaan warga lokal tersebut.
Melalui Workshop Pascapanen dan Praktik Penggunaan Smart Solar Biomass Dryer, para akademisi muda Unhas memboyong mesin pengering hibrida berbasis Internet of Things (IoT). Alat ini memadukan energi surya, bahan bakar biomassa, dan pemantauan digital yang mudah dioperasikan langsung oleh para petani.
Inovasi ini lahir bukan dari ruang kelas yang ber-AC, melainkan dari hasil mendengarkan aspirasi warga melalui Focus Group Discussion (FGD). Petani selama ini kerap diintai kerugian akibat biji pala yang membusuk atau berjamur saat musim hujan tiba.
Sentuhan Teknologi IoT di Jemari Petani
Dalam pelatihan tersebut, Ketua Tim 15 Ekspedisi Patriot Unhas, Ir. Sahriyanti Saad, Ph.D., bersama narasumber Irham Rasyid, memandu langsung puluhan anggota kelompok tani, pengurus BUMKam, hingga Koperasi Desa.
Mesin pengering ini dirancang khusus untuk menjaga suhu ideal pengeringan pala pada kisaran 50–60°C. Berkat integrasi sistem IoT, kondisi suhu dan kelembapan di dalam ruang pengering dapat dipantau secara real-time hanya melalui layar ponsel genggam.
”Jika suhu terdeteksi di bawah 50°C dari aplikasi, petani tinggal menambahkan biomassa. Sebaliknya, jika melampaui 60°C, bahan bakar dikurangi. Kecepatan kipas (fan) juga bisa diatur dari genggaman,” jelas Sahriyanti.
Senyum Optimisme dari Pelosok Fakfak
Sentuhan inovasi dari Kampus Merah ini disambut hangat oleh warga. Rasa cemas yang biasa mengintai setiap kali awan hitam bergantung kini berganti dengan optimisme.
”Selama ini kalau mau mengeringkan pala, selalu khawatir tiba-tiba hujan. Ternyata ada alat seperti ini yang pakai panas matahari dan bahan bakar sekitar, sangat membantu kami,” ungkap Aher Samai, Ketua Kelompok Tani Rangkum dengan raut lega.
Hal senada diungkapkan Dahlan, Ketua Poktan Pancoran, yang mengapresiasi kemudahan penggunaan alat untuk menjaga kadar air dan kebersihan pala. Ia pun berharap alat prototipe berkapasitas 1.000 biji pala ini kelak dapat dikembangkan ke skala komunal di setiap kampung.
Langkah nyata Unhas di Weri-Saharey membuktikan bahwa riset perguruan tinggi tak berhenti di atas kertas skripsi atau jurnal ilmiah. Ketika ilmu pengetahuan melangkah keluar dari benteng kampus dan menyapa akar rumput, di situlah kemandirian ekonomi dan modernisasi pertanian Indonesia benar-benar dibentuk.(qas)










