
NETSULSEL | Karanganyar, Sebuah dedikasi dan rasa tanggung jawab yang tinggi ditunjukkan oleh jajaran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jati, Desa Jati, Kecamatan Jaten, Karanganyar. Mengutamakan keselamatan ratusan anak penerima manfaat di atas segalanya, Kepala SPPG Jati, Abra Yodha Raya, rela menjadikan dirinya sebagai “garda depan” penguji kelayakan makanan demi memastikan tak ada satu pun sajian tak layak yang sampai ke tangan anak-anak.
Peristiwa ini bermula pada Rabu (12/8/2026) ketika tim dapur dan ahli gizi menemukan kejanggalan aroma pada menu ayam rempah yang disiapkan untuk batch kedua. Mendapat laporan tersebut, Abra tak tinggal diam. Tanpa ragu, ia turun tangan langsung melakukan uji organoleptik bersama timnya untuk memastikan kualitas hidangan tersebut.
”Chef bilang ada yang agak aneh dari aroma. Ahli gizi juga merasakan hal yang sama dan melapor ke saya. Dari aroma memang tidak bisa dibohongi, ada sedikit rasa kecut. Langsung saya turun tangan merasakannya sendiri,” ujar Abra saat ditemui di SPPG Jati, Kamis (13/8/2026).
Keberanian Pasang Badan Demi Keselamatan
Meski bumbu rempah sempat menyamarkan rasa, kepekaan aroma dan standar ketat keselamatan pangan membuat tim SPPG memberi nilai rendah pada kelayakan hidangan tersebut. Tak lama setelah mencicipi menu tersebut—di tengah kondisi fisiknya yang lelah usai beraktivitas padat Abra mengalami mual, pusing, hingga muntah.
Meskipun dari 10 orang yang mencicipi hanya dirinya yang mengalami gejala akibat kondisi fisik yang sedang drop, insiden ini justru menjadi alarm kuat bagi Abra untuk mengambil keputusan tegas.
Tanpa kompromi, langkah pencegahan (preventif) langsung diberlakukan saat itu juga: seluruh distribusi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) porsi tersebut dibatalkan.
Keputusan Tegas: Narik Kembali Demi “Jagani”
Keputusan berani tidak berhenti di situ. Demi menerapkan prinsip zero risk (nol risiko), pihak SPPG Jati bahkan menarik kembali 300 porsi batch pertama yang sudah terlanjur didistribusikan, terlepas dari fakta bahwa batch pertama tersebut sebenarnya aman dan telah dinyatakan layak.
”Pokoknya semua kita tarik kembali sebagai langkah antisipasi. Bukan berarti yang pertama itu berbahaya, tapi ini langkah kami untuk ‘jagani’ (berjaga-jaga) demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” tegas Abra.
Langkah cepat, transparan, dan penuh integritas ini membuktikan komitmen tinggi SPPG Jati dalam menjaga mutu serta keselamatan pangan. Tidak ada korban keracunan di kalangan penerima manfaat, berkat ketegasan seorang pemimpin yang rela pasang badan dan menempatkan keselamatan masyarakat sebagai prioritas tertinggi.(ita)





