NETSULSEL | Semarang, Gelar “maling paling sopan tahun ini” tampaknya layak disematkan kepada seorang pemuda di Krajan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Setelah sempat melarikan sepeda motor Honda Vario putih milik seorang guru SMPN 28 Semarang pada Jumat (28/8/2026), si pelaku malah kena mental sendiri. Tiga hari kemudian, dengan penuh rasa sesal, ia mengembalikan motor tersebut dan menyisipkan surat permohonan maaf di bawah jok.
Kisah penyesalan sang maling budiman ini bermula di siang bolong pada Jumat lampau. Kala itu, M. Benny Priaaji sang pemilik motor tengah asyik bertamu di rumah rekannya. Di saat yang sama, si pelaku yang sebelumnya gagal beraksi di area Wonosari lantaran motornya masuk selokan dan dikejar warga, lari terengah-engah menuju Mangkang Wetan.
Dalam kondisi terdesak dan bingung, pelaku melirik Vario putih milik Benny yang terparkir manis. Tanpa pikir panjang, ia membuang helm kuning dan jaket birunya, lalu ngacir membawa kabur motor tersebut.
Namun, alih-alih menikmati hasil curian, nurani sang pemuda justru bergejolak hebat. Rasa bersalah dan batin yang terus mengutuk perbuatannya sendiri membuat tidur si pelaku tak tenang selama tiga hari. Apalagi setelah sadar bahwa aksi nekatnya mengusik ketenangan kampungnya sendiri.
Puncaknya pada Senin (31/8/2026) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB, dengan langkah lesu dan serba salah, si pelaku mengendap-endap kembali ke lokasi kejadian. Ia meletakkan Vario putih itu hanya berselisih satu rumah dari tempat awal ia mencurinya. Agar motor tersebut aman dan tak digondol maling beneran, si pelaku bahkan berinisiatif menguncinya dengan gembok cakram.
Tak berhenti sampai di situ, bentuk penyesalan mendalam ia tumpahkan dalam secarik kertas yang diselipkan rapi di bawah jok motor. Isi surat itu memuat permohonan maaf tulus yang ditujukan kepada sang pemilik motor, serta kepada tokoh masyarakat setempat yang juga Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman atau yang akrab disapa Pilus.
Pak Pilus yang namanya ikut diseret-seret dalam surat cinta sang maling pun dibuat menggeleng-geleng kepala sekaligus tertawa keheranan saat membaca pesan tersebut.
”Surat itu permintaan maafnya kepada pemilik dan kepada Pak Pilus. Ya aku tertawa saja, kok bisa minta maafnya ke saya. Alasannya katanya khilaf. Lha ini mencuri kok bilang khilaf, kan bingung,” ujar Pilus terkeke-keke.
Meski si pelaku terbukti memiliki iktikad baik, mengembalikan barang bukti secara utuh, dan keluarganya pun sudah sowan memohon ampun, nasi nasi sudah menjadi bubur. Hukum tetaplah hukum.
Kini, sang maling “budiman” tinggal menunggu takdir. Motor Vario putih sudah kembali mendekap pemiliknya dengan selamat, sementara aksi penyesalan sang pelaku tetap harus dipertanggungjawabkan di hadapan aparat kepolisian. (baba)











