
NETSULSEL | Makassar, Cangkir-cangkir kopi hitam yang masih mengepul dan aroma hangat saraba beradu lembut dengan semilir angin malam Kota Makassar. Di sudut Kedai Tujuh Belas, Rabu (2/9/2026) malam tadi, sekat-sekat formalitas penegak hukum seketika melebur. Tak ada lagi kekakuan jubah toga atau ketegangan ruang sidang yang tersisa malam itu hanyalah kehangatan kemanusiaan dan ikhtiar menjaga keadilan.
Sejak pagi hingga sore, jajaran Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan telah merampungkan rangkaian khidmat peringatan Hari Lahir Kejaksaan ke-81. Namun, perayaan sejati tak berhenti di ruang seremonial. Sekitar pukul 19.30 WITA, Kepala Kejati Sulsel, Muhammad Syarifuddin, melangkahkan kaki menuju kedai sederhana itu. Didampingi Wakajati beserta para Asisten dan Koordinator, para insan Adhyaksa ini memilih merayakan usia baru lembaga mereka dengan merakyat: duduk melingkar, menyeruput kopi, dan menikmati sepiring mi kering.

Kedatangan mereka disambut hangat oleh sang pemilik kedai, Djusman AR, seorang aktivis anti-korupsi yang konsisten menyuarakan keadilan. Di balik meja kayu yang bersahaja, dua elemen yang sering kali berada di garis luar dan dalam penegakan hukum ini justru duduk berdampingan. Percakapan mengalir tanpa sekat, diselingi gelak tawa dan diskusi mendalam. Di antara kepulan uap minuman hangat, terungkap komitmen besar: keberanian untuk menuntaskan enam kasus besar yang kini menjadi prioritas utama demi rasa keadilan masyarakat.
Bagi Djusman AR, kehadiran jajaran Kejati Sulsel di hari bersejarah ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan simbol kerendahan hati dan keterbukaan. “Terima kasih atas kunjungannya. Semoga silaturahmi seperti ini menjadi sinergitas positif dalam penegakan hukum dan pemberantasan korupsi antara Kejaksaan dan masyarakat sipil,” tutur Djusman penuh haru.
Muhammad Syarifuddin menyambut apresiasi tersebut dengan tersenyum tulus. Bagi sang Kajati, kebersamaan malam itu adalah pengingat bahwa hukum tidak boleh dingin dan berjarak dari rakyatnya. “Ini masih dalam rangkaian Hari Lahir Kejaksaan, selain untuk bersilaturahmi,” ungkapnya bersahaja.
Hingga jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WITA, pertemuan itu berakhir dengan kehangatan yang tersisa. Malam di Kedai Tujuh Belas menjadi saksi bahwa di balik ketegasan menegakkan hukum, ada nurani yang merakyat sebuah langkah kecil yang menyalakan harapan besar bagi tegaknya keadilan di tanah Sulawesi Selatan.(ita)
















