NETSULSEL | Lampung Selatan, Pesta pernikahan di Desa Merak Belantung, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, pada Sabtu sbaru-baru ini, mendadak berubah dari momen haru menjadi arena lari estafet massal. Bukan karena mantan datang membawa gandengan baru, melainkan akibat “amukan” puluhan tawon vespa yang merasa tidur siangnya terganggu dentuman organ tunggal.
Rencana awal, dentuman bass lagu dangdut koplo dipasang untuk mencairkan suasana dan menggoyangkan para tamu undangan. Namun, apa daya, dentuman keras sound system tersebut rupanya ikut menggoyangkan markas besar koloni tawon vespa yang berada tak jauh dari lokasi tenda hajatan.
Merasa gendang telinga dan ketenangannya diusik, “pasukan” tawon tanpa basa-basi langsung meluncur keluar sarang untuk melakukan sweeping.
Pengantin Maraton, Pemusik Sembunyi di Bawah Meja Katering
Sontak, suasana yang tadinya dipenuhi gelak tawa berubah menjadi kepanikan melimpah. Musik organ tunggal yang sedang asyik dimainkan mendadak mati total bukan karena korsleting listrik, melainkan karena kru musik dan penyanyi memilih kabur menyelamatkan diri.
Tak kalah heboh, pasangan pengantin yang tampil anggun di pelaminan terpaksa menyibakkan gaun mewahnya untuk mengambil langkah seribu. Para tamu undangan pun mendadak kompak melakukan sprint tanpa pemanasan, meninggalkan piring berisi rendang dan es buah begitu saja di atas meja. Melihat situasi pesta yang berubah menjadi arena uji nyali, warga akhirnya menyadari bahwa musuh mereka bukanlah manusia, melainkan serangga beracun yang tak bisa diajak kompromi.
Penyelamat Pesta, Hero Tanpa Jubah Bertopeng, tapi Helm Damkar
Di saat para tamu tak berkutik, sosok heroik yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba di lokasi. Bukan pahlawan super Marvel, melainkan personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Lampung Selatan yang datang lengkap dengan “baju astronot” tebal mereka.
Tanpa butuh waktu lama, petugas Damkarmat berhasil mengevakuasi sarang tawon yang menjadi biang kerok bubarnya hajatan tersebut. Pesta pun akhirnya bisa diselamatkan, meski para tamu kemungkinan butuh waktu untuk menata kembali tatanan rambut dan mental mereka.
Tawon, Musuh Bebuyutan Utama Damkar Lampung Selatan
Usut punya usut, insiden “tawon nekat” ini ternyata bukan cerita baru bagi petugas di Lampung Selatan. Usai kejadian, Kepala Dinas Damkarmat Lampung Selatan, Rully Fikriansyah, membeberkan fakta mengejutkan sekaligus menggelitik.
Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Damkarmat Lampung Selatan telah mencatat 377 operasi penyelamatan non-kebakaran. Uniknya, bukan kobaran api atau ular piton yang paling sering membuat petugas sibuk, melainkan tawon vespa.
”Bisa dikatakan tawon menjadi yang paling banyak kami tangani, yakni sebanyak 229 kejadian. Hampir setiap hari ada laporan dari masyarakat terkait sarang tawon di permukiman,” ungkap Rully kepada media setempat.
Selain menangani 229 sarang tawon, petugas Damkarmat Lampung Selatan juga tercatat menguji kesabaran dengan menangani 79 kasus evakuasi ular, 16 kasus cincin tersangkut di jari manis, 14 pohon tumbang, 11 evakuasi kucing di atas atap, delapan biawak, hingga tiga monyet yang mendadak ‘sowan’ ke rumah warga.
Rully pun mengimbau agar masyarakat tidak nekat menjadi pahlawan kesiangan dengan membasmi sarang tawon vespa sendiri—apalagi mencoba mengusirnya hanya menggunakan dentuman organ tunggal.
”Sengatan tawon vespa sangat berbahaya dan bisa mengancam jiwa. Kalau menemukan sarang yang membahayakan, segera hubungi kami. Jangan mengambil risiko,” tegasnya.
Pesan moral dari kejadian di Kalianda ini cukup jelas: Sebelum menyewa sound system hajatan berdaya ribuan watt, ada baiknya Anda tidak hanya meminta izin ke RT setempat, tetapi juga melakukan survei lokasi ke tetangga sekitar termasuk ke koloni tawon. (ita)





