
NETSULSEL | Jakarta, Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memicu penutupan sementara di empat bandara utama Indonesia pada Minggu (6/9). Langkah krusial ini diambil guna menjamin keselamatan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik yang meluas di ruang udara Banten, Jakarta, hingga Lampung.
Bandara Soekarno-Hatta (CGK) di Tangerang menjadi salah satu infrastruktur vital yang terdampak langsung. Operasional penerbangan di bandara internasional ini dihentikan sementara sejak pukul 02.08 WIB hingga 09.30 WIB akibat abu vulkanik yang membahayakan mesin pesawat.
”Penutupan dilakukan sebagai langkah keselamatan menyusul sebaran abu vulkanik di ruang udara. Status operasional dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu dan hasil pemantauan keselamatan,” ujar perwakilan otoritas penerbangan dalam pemutakhiran data operasional.
Dampak erupsi juga menghentikan aktivitas penerbangan di Bandara Halim Perdanakusuma (HLP), Jakarta. Pengelola bandara memberlakukan penutupan sementara mulai pukul 07.20 WIB hingga 10.00 WIB demi menghindari risiko keselamatan bagi para penumpang dan awak pesawat.
Sementara itu di Lampung, Bandara Radin Inten II (TKG) turut melumpuhkan operasionalnya sejak subuh, tepatnya pada pukul 04.18 WIB hingga 10.00 WIB. Jarak lokasi yang relatif dekat dengan Selat Sunda membuat ruang udara di wilayah ini sangat rentan terpapar material abu.
Bandara Budiarto Curug (RTO) di Tangerang juga tidak luput dari dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Bandara yang banyak digunakan untuk kegiatan pelatihan penerbangan ini resmi ditutup sementara pada pukul 06.48 WIB hingga 09.30 WIB.
Berdasarkan pemantauan satelit Himawari dan VAAC Darwin, sebaran abu vulkanik terpantau melonjak hingga ketinggian FL480 atau sekitar 14,6 kilometer di atas permukaan laut. Angin membawa abu vulkanik bergerak dominan ke arah barat hingga barat daya, mengancam jalur navigasi udara.
Pihak otoritas penerbangan mengimbau para calon penumpang untuk terus memperbarui informasi perjalanan mereka. “Masyarakat pengguna jasa penerbangan diharapkan memantau informasi terbaru dari operator bandara dan otoritas penerbangan sebelum melakukan perjalanan,” tegas pengelola bandara.
Meskipun empat bandara terpaksa ditutup sementara, penutupan ini bersifat dinamis menyesuaikan arah angin dan intensitas erupsi. Pemerintah dan pihak pengelola bandara terus berkoordinasi secara berkala untuk memastikan ruang udara kembali aman sebelum membuka kembali seluruh jalur penerbangan.(isk)





