Partai Kecoa alias Cockroach Janta Party (CJP) yang menjadi wadah gen z India salurkan syahwat politiknya yang tersumbat. Ini menjadi simbol perlawanan terhadap penguasa yang zalim. Partai ini telah dibekukan oleh pemerintahnya.

NETSULSEL | Jakarta, Sebuah fenomena baru melanda negara India. Anak-anak mudanya bergerak aktif dalam politik dengan menunjukkan sikap berlawanan terhadap penguasanya. Sikap ini diwujudkan dalam sebuah keputusan pengakuan dan bergabung dengan sebuah partai baru bernama “Partai Kecoa”.

“Partai Kecoa” digagas oleh Abhijet Dipke, seorang konsultan komunikasi berusia 30 tahun. Awalnya Partai Kecoa ini merupakan gerakan satir dari candaan di media sosial, yang mendadak menjelma menjadi simbol perlawanan. Dalam hitungan pekan, kelompok itu berhasil menggaet puluhan juta pengikut di internet dan menjadi sebuah fenomena politik yang dimotori dan digerakkan oleh Generasi Z negara penggemar nyanyian dan tarian ini.

Cockroach Janta Party (CJP) atau Partai Kecoa ini, sikap yang diwujudkan dalam gerakan moral yang diklaim mewakili kelompok “pemalas, pengangguran, dan mereka yang selalu dianggap salah”.

Popularitasnya meningkat seiring keresahan anak muda India terkait lapangan kerja, biaya hidup yang terus naik, serta berbagai persoalan ekonomi yang dinilai semakin membebani masyarakat. Termasuk kenaikan bahan bakar minyak (BBM), yang bahkan sudah keempat kalinya, hanya dalam beberapa hari.

“Lebih dari dua pertiga pengikut gerakan tersebut berasal dari Generasi Z,” kata Dipke Selasa (2/6/2026).

Akun Instagram CJP sendiri berhasil mengumpulkan hampir 23 juta pengikut hanya dalam waktu singkat. Angka itu melampaui jumlah pengikut partai penguasa yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Ihwal Lahirnya CJP
Ini bermula setelah Dipke mengunggah pertanyaan sederhana di media sosial pada pertengahan Mei lalu. Dalam pernyataan unggahan tersebut, Dipke menulis “Bagaimana jika semua kecoa bersatu?” Unggahan ini kemudian viral.

Unggahan viral Dipke ini merupakan respons atas pernyataan meremehkan seorang pejabat tinggi Mahkama Agung India, yang menganalogikan anak muda pengangguran dengan kecoa dan tidak berguna. Walau pernyataan meremehkan ini kemudian diklarifikasi, kemarahan publik keburu meluas.

CJP kemudian mengadopsi simbol kecoa sebagai maskot dan menyusun manifesto yang menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda. Pesan tersebut dengan cepat menyebar melalui influencer, kreator konten, dan komunitas digital hingga menjadi gerakan nasional di dunia maya.

Para pengamat dinegara Sharuk Khan ini menilai ledakan popularitas Partai Kecoa cerminan keresahan yang selama ini terpendam di kalangan anak muda India. Mereka menilai popularitas partai ini setara dengan popularitas partai Perdana Menteri (PM) Narendra Modi Bharatiya Janata Party (BJP) atau Partai Rakyat India yang mendominasi panggung politik nasional, banyak anak muda mengaku frustrasi terhadap peluang kerja yang terbatas serta kualitas hidup yang belum membaik.

Data pemerintah menunjukkan tingkat pengangguran usia muda masih jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Kondisi tersebut diperburuk oleh berbagai kasus kebocoran soal ujian dan ketidakpastian karier yang dialami jutaan lulusan baru.

Saat ini, Partai Kecoa masih menyatakan diri sebagai gerakan sosial dan belum memutuskan berubah menjadi partai politik. Meski akun media sosialnya telah diberangus diinternet oleh pemerintahnya, namun saluran politik anak-anak muda ini masih mampu membangun organisasi, penggalangan dana, mengumpulkan relawan hingga menggerakan massa didunia nyata.(ita)