
KERANETSULSEL | Makale & Rembang, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memakan korban massal. Dalam satu hari yang sama, Kamis (3/9/2026), tragedi dugaan keracunan makanan melanda dua daerah berbeda di Indonesia, yakni Kabupaten Tana Toraja (Sulawesi Selatan) dan Kabupaten Rembang (Jawa Tengah). Kali ini, jerat penderitaan tidak hanya membanting para siswa di ruang perawatan, tetapi juga melumpuhkan para guru yang ikut menyantap hidangan sekolah.
Suasana mencekam menyelimuti SMP Negeri 1 Makale, Tana Toraja. Lorong-lorong sekolah yang riuh mendadak berubah menjadi kepanikan saat puluhan murid meringis kesakitan memegang perut, disusul rasa mual, pusing, hingga muntah-muntah. Sedikitnya 79 siswa terpaksa dilarikan secara darurat ke tiga rumah sakit berbeda: 30 anak di RSUD Lakipadada, 27 anak di RS Sinar Kasih, dan 22 anak di RS Fatimah.
”Rasa makanannya beda pas dimakan kemarin. Ada tempe, ayam, sayur, sama tapai,” tutur salah satu siswa SMPN 1 Makale dengan wajah pucat saat terbaring di ruang IGD RSUD Lakipadada. Isak tangis orang tua yang berdatangan pun memecah kesibukan tenaga medis yang terus menerima pasien susulan. Bupati Tana Toraja, dr. Zadrak Tombeg, Sp.A, mengonfirmasi bahwa seluruh fasilitas kesehatan telah disiagakan penuh untuk menangani para korban sembari meneliti sampel makanan sesuai SOP.
Sementara itu di Jawa Tengah, penderitaan yang tak kalah hebat melumpuhkan SMAN 1 Lasem (Smanela), Rembang. Sebanyak 750 warga sekolah terdiri dari 725 murid dan 25 guru mengalami diare massal secara bersamaan sekitar pukul 09.00 WIB. Pemandangan pilu terlihat saat ratusan siswa dan pengajar saling berdesakan mengantre toilet sekolah yang tak lagi mampu menampung ledakan jumlah penderita mules dan mual. Aktivitas belajar mengajar lumpuh total hingga seluruh siswa akhirnya dipulangkan lebih awal.
”Kemarin menunya ayam bakar, nasi, mendoan, dan semangka. Ada tim pencicip yang sempat menemukan bagian ayam berlendir. Informasi dari SPPG, ayam dimasak jam 3 pagi tapi baru dimakan anak-anak jam 12 siang,” ungkap Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik. Dari total korban di Rembang, Puskesmas Lasem langsung menangani puluhan pasien intensif, termasuk 5 guru dan 13 murid, dengan 3 siswa di antaranya harus menjalani rawat inap.
Tragedi ganda di Toraja dan Rembang ini menjadi tamparan keras bagi tata kelola pendistribusian MBG. Para pelajar yang mengharapkan asupan gizi untuk belajar justru harus terbaring lemas di kasur rumah sakit, sementara para guru yang bertugas mengajar ikut tergeletak tak berdaya akibat santapan yang seharusnya menyehatkan. (duppa)










