
NETSULSEL | Jakarta, Kebijakan publik bukan sekadar angka di atas kertas atau anggaran triliunan rupiah yang digelontorkan dari pusat. Keberhasilan sejati sebuah program nasional terletak pada sentuhan kemanusiaan di lapangan. Dalam Rapat Koordinasi Nasional bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono secara terbuka menyampaikan permohonan tulus sekaligus panggilan pengabdian baru bagi para pendidik di seluruh penjuru negeri: turut menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama para siswa di dalam kelas.
Permintaan ini bukan sekadar menambah beban tugas administratif guru, melainkan sebuah gerakan kebudayaan yang menempatkan meja makan sebagai ruang kelas baru sebuah panggung edukasi karakter, tata krama, dan kepedulian yang menginspirasi.
Makan Bersama sebagai Puncak Edukasi Karakter
Selama ini, kehadiran guru dalam program MBG telah menjadi benteng utama, mulai dari mendampingi siswa mengantre, memandu doa, hingga membiasakan cuci tangan. Namun, BGN ingin melangkah lebih jauh. Dengan duduk dan makan bersama, guru mentransformasikan momen makan siang menjadi ajang keteladanan (modelling behavior).
”Saya memohon dengan kesediaannya kepada bapak-ibu guru untuk menu MBG-nya dimakan bersama-sama dengan siswa. Tujuannya adalah sebagai tempat mengedukasi tata krama, kebersihan, dan kebiasaan hidup sehat secara langsung,” ujar Sudaryono.
Langkah ini membuktikan bahwa edukasi terbaik tidak selalu lahir dari papan tulis, melainkan dari kebersamaan dan keteladanan nyata seorang guru di samping anak didiknya.
Guru sebagai Barisan Benteng Kemanusiaan dan Keamanan
Selain peran edukatif, guru kini memegang tongkat estafet kepemimpinan sebagai pemeriksa organoleptik terakhir. Guru adalah pihak pertama yang memastikan bahwa hidangan yang sampai di meja anak-anak benar-benar layak, segar, dan aman secara kualitas sebelum disentuh.
Mulai pekan depan, BGN memberlakukan inovasi baru berupa penandaan batas waktu konsumsi pada setiap wadah (ompreng) MBG. Dalam hal ini, ketegasan guru sangat dibutuhkan untuk memastikan tidak ada makanan kadaluarsa yang dikonsumsi, baik oleh siswa maupun guru itu sendiri.
Menyentuh Sisi Empati, Memahami Hati Anak-Anak Pelosok
Di balik kebijakan teknis, Sudaryono menyoroti realita menyentuh hati di lapangan. Di daerah pelosok, tidak sedikit siswa yang sengaja menyisihkan lauk bergizi seperti telur, ayam, atau ikan untuk dibungkus dan dibawa pulang demi keluarga tersayang.
”Banyak peserta didik kita yang hatinya sangat baik. Bagi sebagian anak di pelosok, lauk seperti ini adalah barang langka sehari-hari,” ungkap Sudaryono.
Namun, demi keselamatan dan mencegah risiko penurunan kualitas makanan yang dapat memicu kasus keracunan di tingkat keluarga, guru diimbau untuk memberikan pemahaman secara persuasif dan penuh kasih sayang. Guru diminta mencatat dan mengedukasi orang tua murid bahwa makanan tersebut harus dihabiskan di sekolah demi kesehatan sang anak.
Sebuah Panggilan Pengabdian yang Menggerakkan
Langkah BGN merangkul guru sebagai mitra strategis menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar pembagian makanan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan generasi emas Indonesia. Melalui kepemimpinan, keteladanan, dan kasih sayang para guru di ruang kelas, keselamatan anak-anak terjaga dan nilai-nilai luhur bangsa terus bertumbuh.(duppa)






