Menagih Janji PLN Menerangi Makassar, Asa 183 Community dan ​Menyulam Terang di Bawah Gulita Kota

183 community bercengkerama melalui kopi darat pagi ini. Mereka menagih janji PLN mengakhiri prgram pemadaman bergilir hari ini.

NETSULSEL | Makassar, Gelap yang menyergap Kota Makassar dalam beberapa hari terakhir pekan ini, tak sekadar perkara matinya bola lampu. Di balik pendar lilin yang redup dan deru mesin genset yang bising, ada denyut nadi ekonomi warga yang tertahan. Sabtu, 5 September 2026, menjadi hari yang paling dinanti, sebuah titik purna dari helatan pemadaman listrik bergilir yang sempat melumpuhkan ritme keseharian warga Kota Daeng.

​Janji itu terucap langsung dari General Manager PLN UID Sulselbar, Edyansyah, kala bertandang ke Balai Kota Makassar pada Selasa lalu. Di hadapan Wali Kota Munafri Arifuddin, tumpuan asa digantungkan, pemadaman bergilir dipastikan berakhir tepat di hari ini. Bagi masyarakat luas, kepastian tersebut adalah angin segar yang mengembuskan kembali harapan agar roda perekonomian dapat berputar tanpa bayang-bayang kegelapan yang datang tiba-tiba.

​Kehangatan rasa optimisme itu menjalar hingga ke sudut-sudut markas 183 Community, wadah berhimpunnya warga dari pelbagai latar belakang—mulai dari ASN, personel TNI-Polri, pegawai swasta, hingga para purnawirawan di kawasan Jalan Perintis Kemerdekaan KM 14, tepat di seberang markas AURI Daya. Bagi mereka, terangnya listrik adalah detak jantung kehidupan.

​H. Abdul Rais, salah satu anggota komunitas, mencoba menatap situasi ini dengan sudut pandang yang lapang. Ia memahami betul bagaimana kemarau panjang telah merenggut pasokan air di pembangkit, memaksa PLN bergelut dengan keterbatasan alami. “Sebagai masyarakat, kami memaklumi kondisi ini jika memang murni gangguan akibat musim kemarau,” tuturnya tenang.

​Namun, empati tentu ada batasnya bila berhadapan dengan realitas usaha. Bagi H. Dass, pemilik kedai Bakso Dass di Pasar Baru Daya, janji adalah utang yang harus dilunasi. Hilangnya daya listrik kerap kali berarti surutnya pembeli dan potensi kerugian. Rasa gusar itu disulutnya menjadi sikap tegas. “Saya akan terus menagih janji PLN sampai listrik benar-benar kembali normal dan stabil,” tegas sang pengusaha kuliner.

​Senada dengan itu, Agung, pemilik Warkop 183 yang saban hari menjadi saksi riuh rendah warga berdiskusi, terus berupaya menjaga kesabaran. Di tengah denting cangkir kopi dan riuk pembeli yang mengeluh saat lampu mendadak padam, ia memilih menyikapi keadaan dengan senyum teguh. Mengelola UMKM di tengah ketidakpastian arus daya memang menguji ketabahan, tetapi semangatnya tak padam begitu saja.

​Hari ini, Makassar menatap langit sore dengan penuh harap. Ketika janji yang terucap ditagih oleh ketulusan warga, harapan mereka sederhana: biarlah malam nanti Kota Daeng kembali benderang, menyinari usaha dan senyum masyarakatnya tanpa ada lagi kegelapan yang menyela. (aa/ita)