
NETSULSEL | Makassar. Ada benang merah yang tak terlihat namun terikat kuat, membentang dari Pante Makassar di pesisir Oecusse hingga ke pelataran Kampus Tamalanrea, Universitas Hasanuddin. Ratusan tahun lalu, para pelaut Bugis-Makassar menembus ombak Laut Timor membawa rempah, niaga, dan persaudaraan. Pada Sabtu, 5 September 2026, rajutan sejarah bahari itu kembali bergetar hangat saat Unhas menyematkan gelar Doktor Honoris Causa kepada Perdana Menteri Republik Demokratik Timor Leste, H.E. Kay Rala Xanana Gusmão.
Penganugerahan dalam sidang terbuka akademis tersebut memancarkan pesan tersirat yang mendalam. Di mata tim promotor yang dipimpin oleh Prof. Hafid Abbas, panggung ini sama sekali bukan ruang riuh untuk merayakan popularitas politik belaka. Ini adalah panggung penghormatan atas transformasi sunyi seorang manusia: dari pejuang grilya di rimba belalak menjadi sosok negarawan yang merajut damai.
”Gelar kehormatan ini diberikan bukan sekadar seremonial atau bentuk popularitas politik, melainkan sebuah bentuk pengakuan atas nilai, prinsip, serta standar moral dan intelektual yang dinilai berkontribusi besar bagi peradaban,” tegak Prof. Hafid Abbas menegaskan rasionalitas akademis di balik gelar tersebut.
Ketokohan Xanana diakui dunia bukan hanya karena ia menjadi saksi dan arsitek utama lahirnya sebuah bangsa dari puing-puing konflik. Lebih dari itu, keberaniannya terletak pada keputusan paling sulit dalam sejarah pascakonflik: memaafkan tanpa harus melupakan. Luka masa lalu tak dijadikannya tembok pemisah, melainkan jembatan rekonsiliasi yang kokoh bersama para pemimpin Indonesia.

Sikap rendah hati dan keberanian hukum yang ia tunjukkan saat memperjuangkan kedaulatan serta membangun institusi demokrasi Timor Leste dinilai selaras dengan ruh keilmuan Universitas Hasanuddin. Unhas melihat dalam diri Xanana ada persilangan antara moralitas kepemimpinan dan penegakan keadilan kemanusiaan.
Ketika toga akademis dilingkarkan pada bahu sang mantan gerilyawan, Unhas tak sekadar mengapresiasi seorang individu. Melalui rekam jejak diplomasi dan persahabatan panjang ini, Unhas sedang menguatkan kembali ikatan keilmuan dan perdamaian antarbangsa sebuah pesan abadi bahwa dari bekas jejak luka perang, selalu ada ruang untuk menanam pohon benih peradaban.(syam)










