Warga Makassar Kecewa Pemadaman Bergilir Masih Berlanjut, Warga Mempertanyakan Daya Cadangan Kelistrikan Kemana?

sketsa dengan imajinasi AI (hanya pemanis)

NETSULSEL | Makassar, Janji penghentian pemadaman listrik bergilir yang dinantikan warga Kota Makassar dan sekitarnya pada Minggu malam lalu rupanya belum terwujud. Hingga saat ini, pemadaman listrik masih terus berlangsung dan memicu gelombang keluhan dari masyarakat yang merasa dibohongi oleh janji manis pihak penyedia layanan listrik.

​Kondisi mati lampu yang berdurasi antar dua hingga empat jam di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan ini dinilai sangat mengganggu aktivitas harian warga serta memukul operasional pelaku usaha kecil. Banyak warga menagih kepastian hingga kapan pemeliharaan sistem ketenagalistrikan ini akan terus berlanjut.

Diunit PLN untuk ULP panakukang misalnya, Hari selasa (8/9/26) hari ini, Pemadaman aliran listrik dimulai dari pkl.12.00 hingga pkl. 16.00 wita yang meliputi kawasan jalan Adhiyaksa meliputi Jalan Racing Center, jalan Racing Sinrijala, jalan Prof Abdurahman Basalamah dan sekitarnya hingga kawasan Jallan Toddopuli Raya yang meliputi Asrama Polisi Toddopuli, Kompleks Maizonet dan lainnya. Kondisi ini hampir serupa terjadi diseluruh wilayah Makassar secara bergantian.

Salah seorang Warga di Komplesk Maizonet yang enggan disebut namanya, yang juga mantan pegawai PLN menjelaskan, Beban puncak sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan berada di kisaran 2.089 megawatt (MW) dengan total pasokan daya sekitar 2.205 MW. Cadangan Daya Sekitar 116 MW atau 5,3%. Ia melanjutkan syarat kehandalan system ketenaga listrikan di suatu wilayah itu memiliki Cadangan Daya (Reserve Margin): Ketersediaan daya total harus melebihi beban puncak (biasanya minimal 20% hingga 30% di atas beban puncak). Cadangan ini berfungsi untuk mengantisipasi lonjakan beban mendadak atau pemeliharaan pembangkit.

“Selama ini, pasokan daya sudah aman dan tidak padam meskipun unit pembangkit terbesar atau satu jalur transmisi utama dalam sistem mengalami gangguan tiba-tiba (forced outage)” katanya menguraikan.

Ia menjelaskan lagi, Kalau listrik handal, walaupun salah satu pembangkit utama yang keluar dari sistem baik karena pemeliharaan, kerusakan ataupun faktor lainnya harusnya tidak perlu ada pemadaman.

“jika alasan karena kemarau harusnya bisa terantisipasi. informasi elnino jauh sebelumnya sudah dishare jadi upaya mitigasi harusnya sudah dipersiapkan dan diimplementasikan saat kondisi kemarau itu terjadi. Jadi PLN tak ada alasannya untuk menempuh kebijakan pemadaman” pungkasnya.

​Menanggapi keluhan tersebut, PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) menegaskan bahwa proses pemulihan dan optimalisasi pasokan pada Sistem Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) masih terus diupayakan hingga hari ini.

​”PT PLN menyampaikan bahwa kondisi pasokan listrik pada Sistem Sulawesi Bagian Selatan saat ini masih dalam proses pemulihan dan optimalisasi,” ujar Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Sulselrabar, Niki Rendra Adisetiawan, dalam keterangan resminya.

​Niki menjelaskan, meski satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeneponto berkapasitas 125 megawatt (MW) sudah beroperasi kembali dan berhasil menyuplai listrik ke dalam sistem, daya mampu dari sejumlah pembangkit lain masih belum optimal. Hal ini membuat pengaturan beban harus tetap dilakukan secara bertahap dan terukur berdasarkan kondisi real time.

​”PLN memahami kondisi ini dapat berdampak pada aktivitas masyarakat dan pelanggan. Kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Seluruh petugas PLN terus bekerja dan melakukan percepatan penanganan agar kondisi kelistrikan dapat segera kembali normal,” tambah Niki.

​Sebagai informasi, pemeliharaan sistem kelistrikan oleh PLN ini tercatat sudah berlangsung sejak 31 Agustus lalu. Warga berharap proses penanganan ini segera tuntas tanpa ada penundaan janji pemulihan berikutnya. (qas)